Pemda Manggarai Keluhkan Pendapatan Taman Nasional Komodo

CNN Indonesia | Rabu, 11/12/2019 11:05 WIB
Pemda Manggarai Keluhkan Pendapatan Taman Nasional Komodo Pemda Manggarai Barat menyebut Taman Nasional Komodo belum memberikan pendapatan maksimal ke APBD. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manggarai Barat Agustinus Rinus mengungkapkan kehadiran Taman Nasional Komodo belum memberikan kontribusi optimal terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal itu salah satunya disebabkan oleh perbedaan jumlah turis yang dicatat oleh pemerintah daerah dengan pengelola taman nasional yang berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Ia mengungkapkan tahun lalu, pemerintah daerah mencatat jumlah turis yang masuk hanya 130 ribu orang. Sementara, berdasarkan data pengelola taman mencapai 176 ribu orang. Akibatnya terjadi selisih sekitar 46 ribu orang yang menggerus penerimaan daerah.

"Ada distribusi pendapatan yang tidak merata. Mereka (pengelola Taman Nasional) hampir Rp34 miliar. Kami hanya berkisar Rp6 miliar," ujar Agustinus di Manggarai Barat, NTT, Senin (9/12).


Agustinus mengungkapkan perbedaan jumlah turis itu bisa terjadi karena saat ini Taman Nasional Komodo bisa diakses dari beberapa pintu. Penjualan tiket retribusi yang dikeluarkan pengelola taman nasional ada di empat titik, di antaranya di Pulau Padar dan Filemon.

Tapi, pengumpulan retribusi pemda hanya di dua titik, Pulau Rinca dan Pulau Komodo.

"Kami dorong, pemerintah daerah, kalau bisa hanya satu pintu menuju Taman Nasional Komodo. Kalau tidak bisa ya digitalisasi supaya data kunjungan sama," ujarnya.

Menurut Agustinus, penjualan tiket satu pintu dapat dipusatkan di Labuan Bajo. Dengan demikian, baik pemda maupun pengelola taman nasional memiliki data jumlah kunjungan yang sama.

Selain itu, daerah juga akan merasa memiliki kawasan pariwisata itu dengan kontribusi pendapatan yang signifikan.

[Gambas:Video CNN]
"PAD kan pada akhirnya membiayai pembangunan di daerah ini," ujarnya.

Perbedaan pendapatan itu juga berasal dari harga tiket yang dijual oleh daerah dan pengelola taman nasional. Saat ini, wisatawan harus membeli dua tiket. Yaitu, retribusi pemda seharga Rp100 ribu untuk wisatawan asing, Rp50 ribu untuk wisatawan nusantara, dan Rp20 ribu untuk wisatawan lokal NTT.

Sementara, tiket masuk yang dikeluarkan oleh pengelola taman nasional sesuai seharga Rp150 ribu untuk wisatawan asing di hari biasa dan Rp250 ribu di waktu libur.

Sektor pariwisata sendiri berkontribusi hampir 39 persen dari Pendapatan Asli Daerah. Ke depan, Agustinus berharap kontribusi sektor pariwisata bisa meningkat menjadi 50 persen seiring perbaikan akses infrastruktur.

"Tahun depan, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp1,7 triliun untuk membangun aksesibilitas udara, peningkatan bandara menjadi bandara internasional, aksesibilitas laut dengan pembangunan marina bertaraf internasional, dan akses darat untuk lintas utara dan selatan akan diselesaikan pada 2020," ungkapnya. (sfr/agt)