Tercatat sekitar 2.188 unit BUMDes sudah tidak aktif beroperasi lagi pada tahun ini. "Kami tidak bisa menutupnya. Yang bisa adalah memfasilitasi dan merevitalisasi. Revitalisasi berupa penambahan modal, peningkatan jaringan, pendampingan. Kalau perlu dibikin holding dan super holding," ujarnya, Rabu (11/12).
Abdul menjelaskan revitalisasi akan dimulai dengan mendata dan memetakan ulang seluruh unit BUMDes yang sudah terlanjur dibentuk. Misalnya, mana unit yang masih produktif, kurang, dan tidak produktif lagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi, kami bentuk pengelolaan produksi desa dari hulu sampai hilir ditangani dengan baik. Setelah itu ada super holding yang kalau perlu melibatkan BUMN," jelasnya.
Sebenarnya, ia melanjutkan saat ini sudah ada beberapa contoh holding BUMDes. Misal, di Bangka Belitung, Temanggung, dan Bali. Harap maklum, kebijakan holding sebenarnya memang sudah pernah dimunculkan oleh Mendes era Kabinet Kerja Eko Putro Sandjojo.
"Misalnya, saat ini produksi 3.000 ton, setelah kerja sama ada pendampingan, penanaman, pembibitan, dan seterusnya sampai panen bisa menghasilkan 6.500 ton, naik 100 persen. Jadi, holding melibatkan beberapa desa dari kabupaten, jadi butuh jaringan kalau perlu bisa ekspor," terang dia.
Kendati begitu, ia belum ingin merinci berapa besar anggaran revitalisasi BUMDes yang disiapkan, target unit yang bisa direvitalisasi, jangka waktu yang disiapkan untuk mengejar target, hingga desa mana saja yang akan jadi prioritas.
Begitu pula dengan BUMN mana yang sekiranya bisa menjalin kerja sama lebih dulu dengan para BUMDes. "(Anggaran) bergantung masalah yang dihadapi, kalau masalahnya pemasaran, ya tidak butuh banyak. Kami ingin sebanyak mungkin (BUMDes yang direvitalisasi)," tuturnya.
[Gambas:Video CNN]
Desa Tertinggal
Tak hanya membenahi BUMDes, Abdul mengatakan pemerintah akan pula mempercepat pengurangan desa tertinggal. Targetnya, ada sekitar 10 ribu desa tertinggal pada tahun depan.
Sementara itu, per tahun ini ada sekitar 20 ribu desa tertinggal dan 6.000 desa sangat tertinggal. "Presiden memerintahkan untuk akselerasi. Presiden mengatakan kalau bisa kurangi lagi," imbuh dia.
Untuk menangani desa tertinggal, Abdul bilang pemerintah akan mengatasi dengan mempercepat pembangunan di desa, seperti infrastruktur jalan, jembatan, sanitasi.
Caranya, dengan menggali potensi desa, lalu meningkatkan produksi serta pemasaran. Hal ini agar produk desa bisa mendapatkan akses pasar yang luas, sehingga memberi sumbangan ke pendapatan masyarakat desa dan peningkatan ekonomi.
"Produk unggulan desa akan dikapitalisasi sedemikian rupa, kami foto, identifikasi, dan fasilitasi pemasarannya," tandasnya. (uli/bir)