Rupiah Menguat Tipis ke Rp14.038 per Dolar AS

CNN Indonesia | Kamis, 12/12/2019 16:59 WIB
Rupiah Menguat Tipis ke Rp14.038 per Dolar AS Rupiah menguat 0,04 persen menjadi Rp14.032 per dolar AS pada perdagangan Kamis (12/12) sore. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah bertengger di level Rp14.032 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Kamis (12/12) sore. Nilai mata uang rupiah menguat 0,04 persen dibandingkan nilai pada penutupan perdagangan pada Rabu (11/12), Rp14.038 per dolar AS.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.042 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi kemarin, yakni Rp14.042 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.028,5 hingga Rp14.045 per dolar AS.

Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Tercatat, won Korea menguat 0,66 persen, dolar Taiwan 0,45 persen, rupee India 0,35 persen, dan peso Thailand 0,26 persen.

Penguatan juga terjadi pada bath Thailand sebesar 0,22 persen, lira Turki 0,14 persen, ringgit Malaysia 0,1 persen, yuan China 0,05 persen, dolar Singapura 0,02 persen dan dolar Hong Kong 0,01 persen. Sedangkan, yen Jepang tercatat melemah 0,1 persen.

Di negara maju, penguatan terjadi pada poundsterling Inggris sebesar 0,08 persen, dolar Australia 0,06 persen dan dolar Kanada 0,02 persen. Pelemahan terhadap dolar AS terjadi pada euro sebesar 0,03 persen dan dolar Selandia Baru sebesar 0,15 persen.

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai peranan the Fed yang akan mempertahankan suku bunga rendah di 2020 membantu penguatan rupiah.

"Namun, pergerakan rupiah hari ini masih dalam kisaran sempit, hanya 16,5 poin. Pasar masih menunggu kepastian hasil negosiasi dagang AS dan China yang hingga kini masih belum jelas," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (12/12).

Selain itu, pasar juga menunggu keputusan AS terkait tarif baru untuk barang impor dari China pada 15 Desember 2019 nanti. "Penerapan tarif akan menjadi sentimen negatif untuk rupiah dan sebaliknya," jelasnya.
[Gambas:Video CNN]


(sfr/bir)