Kondisi defisit menuntut pemerintah memutar otak untuk menutupnya. Berbagai instrumen digunakan mulai dari penerbitan surat utang hingga pinjaman.
Beberapa waktu lalu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengubah proyeksi realisasi defisit APBN 2019 ke kisaran 2 persen hingga 2,2 persen dari produk domestik bruto (PDB). Padahal, awalnya, defisit anggaran diperkirakan hanya 1,84 persen dari PDB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebenarnya, pemerintah dapat melonggarkan batas defisit anggaran melalui revisi aturan. Namun, Kemenkeu tetap 'main aman' dengan manut pada beleid yang ada.
"Pemerintah tetap sejalan dengan amanat UU tentang Keuangan Negara terkait batas defisit APBN dan rasio utang. APBN akan selalu dijaga secara hati-hati," ucap Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani kepada CNNIndonesia.com, Jumat (13/12).
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus mengatakan ruang fiskal Indonesia akan semakin terbatas ke depannya kalau utang kian menumpuk. Bila demikian, pemerintah akan kesulitan likuiditas.
"Kalau utang besar, kan pembiayaan ada dari dalam dan luar negeri. Kalau utang semakin banyak, bunga semakin besar. Ada jebakan likuiditas," ucap Ahmad.
Terlebih, penerimaan negara cenderung melambat beberapa waktu terakhir. Jika terus begini dan utang semakin bertambah, Ahmad menyebut bisa saja penerimaan negara nantinya mayoritas untuk bayar utang.
"Nah, kalau utang bertambah misalnya menjadi Rp1.500 triliun total yang harus dibayar kan jadi tinggal Rp1.000 triliun yang bisa digunakan untuk belanja, infrastruktur lalu belanja pegawai. Percuma, dana hanya bisa bayar utang," papar Ahmad.
Lagi pula, defisit anggaran saat ini masih jauh dari 3 persen, yakni 1,8 persen per Oktober 2019. Dengan kata lain, pemerintah masih punya kesempatan untuk me mengoptimalkan belanjanya hingga defisit mencapai 3 persen.
"Rasio utang harus dibuat pagar pembatas, kalau tidak nanti kebablasan. Nanti kalau utang naik, belanja produktif jadi minim. Jadi, pakai saja dulu sementara ruang yang ada sampai batas 3 persen," jelas Ahmad.
Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan defisit APBN 2019 akan melebar dibandingkan target awal tahun ke kisaran 2,2 persen dari PDB. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A). |
Dengan kebijakan itu, minimal tingkat konsumsi masyarakat diharapkan bisa terjaga. Maklum, tingkat konsumsi masyarakat merupakan salah satu komponen terbesar yang mendorong perekonomian dalam negeri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komposisi konsumsi rumah tangga mencapai 56,52 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal III 2019.
"Untuk stimulus ekonomi bisa belanja modal untuk infrastruktur misalnya kan bangun gedung, butuh semen. Perusahaan semen butuh buruh untuk kerja dan pembangunan infrastruktur butuh buruh untuk bangun gedung. Konsumsi naik, pengaruh ke ekonomi," ungkap Yusuf.
Senada dengan Ahmad, Yusuf mengingatkan pelebaran defisit akan mendorong negara menarik utang lebih besar dari sebelumnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa mayoritas utang pemerintah sejauh ini berasal dari surat berharga negara (SBN).
"Kalau defisit anggaran dinaikkan, tentu pemerintah terbitkan SBN lebih banyak. Ini bisa menjadi bahaya karena porsi investor asing juga banyak di kepemilikan SBN," tutur Yusuf.
Jika ekonomi sedang bergejolak, sambung Yusuf, investor asing biasanya keluar dari pasar obligasi dengan ramai-ramai melakukan aksi jual. Jika itu terjadi, nilai tukar rupiah akan bergerak negatif.
Maka itu, ia menyarankan pemerintah sebaiknya tak nekat untuk menaikkan batas defisit anggaran APBN. Setidaknya, pemerintah bisa menjaga defisit anggaran di level 2 persen-2,25 persen terhadap PDB.
Sependapat, Anggota Komisi XI DPR RI Hendrawan Supratikno menambahkan pemerintah sebaiknya tak mengubah aturan batasan defisit anggaran dalam APBN. Sebab, hal itu akan mempengaruhi psikologis pasar terhadap ekonomi Indonesia.
"Ini bisa menimbulkan salah tafsir di pasar. Pemerintah bisa mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu), namun pasar menilai ini sudah 'kepepet'," pungkas Hendrawan.
[Gambas:Video CNN] (sfr)
Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan defisit APBN 2019 akan melebar dibandingkan target awal tahun ke kisaran 2,2 persen dari PDB. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A).