Melihat Harga Pesawat Airbus Garuda yang Bawa Harley Davidson

CNN Indonesia | Senin, 16/12/2019 08:35 WIB
Melihat Harga Pesawat Airbus Garuda yang Bawa Harley Davidson Harga pesawat Airbus A330-900 neo yang dipesan Garuda Indonesia dan mengangkut Harley Davidson diperkirakan Rp4,14 triliun pada 2018. (AFP/Pascal Pavani).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kasus penyelundupan Harley Davidson oleh Ari Askhara, eks direktur utama PT Garuda Indonesia (Persero), berbuntut panjang. Setelah pemecatan dirut hingga persoalan anak dan cucu usaha BUMN maskapai penerbangan itu, kini oknum Garuda Indonesia dituding menaikkan harga (mark up) pesawat Airbus jenis A330-300.

Akun anonim Twitter @digeeembok menyebut pada 2003 lalu, harga Airbus A330-300 dibanderol US$140 juta. Namun, Garuda membeli pesawat seharga US$214 juta per unit. Garuda memesan enam unit yang berarti perusahaan menggelontorkan dana US$1,2 miliar.

Tudingan mark up harga pesawat tersebut menyeret nama Tommy Tampatty, Ketua Serikat Karyawan Garuda Indonesia (Sekarga), yang ditolak mentah-mentah olehnya. Bahkan, ia meminta masyarakat untuk tidak mempercayai akun anonim tersebut.

"Saya tegaskan bahwa tuduhan itu tidak benar. Saya berani menantang siapapun kalau benar mereka ada bukti, yuk sama-sama melapor ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)," imbuh dia kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (14/12).

Mengutip laman resmi airbus.com, harga rata-rata pesawat Airbus A330-300 pada 2018 lalu sebesar US$264,2 juta atau setara dengan Rp3,69 triliun jika menggunakan kurs Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara, untuk harga pesawat Airbus A330-900 neo, jenis pesawat pesanan terbaru Garuda yang mengangkut motor selundupan Harley Davidson dan sepeda Brompton, berkisar US$296,4 juta atau setara Rp4,14 triliun pada 2018.

Eks Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara sempat menyebut perusahaan telah memesan sebanyak 14 pesawat Airbus A330-900 neo. Armada itu akan dikirim langsung dari Prancis secara bertahap hingga 2022 mendatang.

Ia bilang total pesawat Airbus A330-900 neo yang tiba tahun ini sebanyak lima armada. Nantinya, tiga armada akan digunakan oleh Garuda Indonesia dan dua pesawat diberikan kepada anak usahanya, yakni Citilink Indonesia.
[Gambas:Video CNN]
Hanya saja, manajemen tak mengungkapkan total dana yang digelontorkan dan skema pemesanan 14 pesawat Airbus A330-900 neo.

CNNIndonesia.com mencoba menghubungi Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Fuad Rizal, Direktur Niaga Pikri Ilham Kurniansyah, dan Vice President Corporate Secretary M. Ikhsan Rosan, namun ketiganya tak menjawab pertanyaan yang diajukan.

Jika mengacu pada harga pesawat yang dipaparkan Airbus dalam laman resminya, setidaknya dana yang harus dikucurkan oleh Garuda Indonesia untuk memesan 14 pesawat mencapai US$4,14 miliar atau Rp58 triliun.

Ari menjelaskan Airbus A330-900 di Garuda Indonesia akan digunakan untuk rute penerbangan domestik dan internasional. Rinciannya, Jakarta-Surabaya pp, Jakarta-Makassar pp, Jakarta-Kualanamu pp, Jakarta-Denpasar pp, Jakarta-Amsterdam pp.

"Rencana ke depannya digunakan untuk rute penerbangan internasional, seperti Jakarta-Amsterdam pp sebagai salah satu upaya untuk memperkuat jaringan konektivitas penerbangan internasional, khususnya di wilayah Eropa, sekaligus memenuhi kebutuhan pasar Amsterdam yang tinggi ke Indonesia."

Di sisi lain, Direktur Utama Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahjo menyatakan pihaknya akan menggunakan Airbus A330-900 untuk penerbangan internasional. Rute yang disiapkan, antara lain Jakarta-Jeddah dan negara lainnya di Asia.

Sementara, Pengamat Penerbangan Gatot Raharjo menjelaskan mayoritas maskapai biasanya menggunakan skema sewa beli (lease purchase) dalam memesan pesawat dari pabrik. Dengan sistem itu, perusahaan harus membayar cicilan dalam jangka waktu yang ditetapkan dalam perjanjian.

Jika cicilannya sudah lunas, maka pesawat yang semula berstatus sewa akan menjadi milik maskapai. Hanya saja, harganya tak sama dengan nilai yang dituliskan di laman resmi pabrik, seperti Airbus.

"Jadi bisa saja skemanya maskapai cari ke pabrik, nanti pabrik cari leasing company. Harga bergantung kesepakatan karena tetap harus ada untung bagi leasing company," imbuhnya.

Selain itu, tambah Gatot, nilai yang harus dibayarkan maskapai juga bergantung pada jumlah pesawat yang dipesan dan fasilitas yang dipilih. Misalnya, harga untuk fasilitas pesawat yang akan digunakan Garuda Indonesia tentu beda dengan Citilink Indonesia.

"Harga pesawat tidak ada yang fix, ada negosisasi. Misalnya, fasilitas pesawat Garuda Indonesia yang full service, beda dengan Citilink dan Lion Air yang tipe pesawat berbiaya murah," tutup Gatot.


(aud/bir)