Dalam kesempatan tersebut, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI (Purn) Marsetio berkesempatan hadir untuk memberikan kelas kepada seluruh pejabat dan pegawai BPH Migas mengatakan bahwa untuk menjadi pemimpin Indonesia diperlukan karakter yang berwawasan nusantara dan maritim.
"Pemimpin Indonesia memiliki totalitas memperjuangkan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan. Kemudian memiliki tekad kuat mewujudkan cita-cita nasional Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur," ujar Marsetio, Jakarta, Selasa (17/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poros Maritim Dunia
Tak hanya itu, Marsetio juga menyinggung perihal konsep Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Ia menegaskan kejayaan Indonesia sebagai negara maritim sangat ditentukan oleh konsep kesatuan seluruh komponen kekuatan nasional dalam mengeksplorasi sumber daya nasional.
"Kemudian memberi prioritas pada pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim Keempat, menerapkan diplomasi maritim melalui usulan peningkatan kerja sama di bidang maritim dan upaya menangani sumber konflik, seperti pencurian ikan, pelanggaran kedaulatan, dengan penekanan bahwa laut harus menyatukan berbagai bangsa dan negara dan bukan memisahkan."
"Pilar kelima adalah membangun kekuatan maritim sebagai bentuk tanggung jawab menjaga keselamatan pelayaran dan keamanan maritim," ujar Marsetio.
Sementara itu, Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya kepada Marsetio yang menyempatkan diri mengisi kelas di lingkungan BPH Migas itu.
"Kami berharapkan semua yang disampaikan dapat dijadikan motivasi untuk memberikan kinerja terbaik bagi bangsa dan negara sesuai tugas dan fungsi BPH Migas sekaligus meningkatkan pemanfaatan gas bumi di dalam negeri," ujar Fanshurullah. (fef)