Per 20 November, Baru 17 Proyek Smelter Rampung 100 Persen

CNN Indonesia | Jumat, 20/12/2019 16:14 WIB
Per 20 November, Baru 17 Proyek Smelter Rampung 100 Persen Ilustrasi smelter. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian ESDM menyatakan baru 17 proyek fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) yang rampung 100 persen hingga 20 November 2019. Jumlah itu hanya 25 persen dari total proyek yang mencapai 67 proyek.

"Yang sudah jalan 100 persen baru 17. Jadi yang belum itu ada sekitar 50 smelter, (jumlahnya) masih sangat besar," kata Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Perencanaan Pembangunan Infrastruktur dan Investasi Triharyo Soesilo di jakarta, Jumat (20/12).

Sebanyak 11 proyek smelter yang rampung merupakan smelter nikel. Sementara, 6 sisanya merupakan smelter bauksit (2), tembaga (2), besi (1) dan mangan (1).


Secara keseluruhan, Triharyo menyebut pembangunan smelter tersebut memiliki progress yang bervariasi.

Rinciannya, sebanyak 13 smelter disebut sudah dalam progres yang hampir matang, atau sebesar 40 persen hingga 90 persen.

"Sementara, yang agak meragukan itu jumlahnya 37. Progressnya dibawah 40 persen ini yang harus digenjot. Soalnya ditargetkan kemungkinan selesai akhir 2021 atau awal 2022," ungkapnya.

Gandeng PLN

Rencananya, Kementerian ESDM juga akan menggandeng PT PLN (Persero) Tbk dalam membangun infrastruktur gas alam di wilayah Indonesia Timur.

Pembangunan infrastruktur gas alam bagi pembangkit listrik diharapkan dapat berintegrasi dengan pembangunan proyek smelter yang membutuhkan tenaga listrik.

"Jadi, ada keterbatasan industri smelter untuk meminjam uang bunga murah karena adanya pelarangan (batu bara). Di sisi lain, PLN di Indonesia Timur memerlukan user dan sedang membangun infrastruktur gas alam di Indonesia Timur," jelasnya.

Dengan integrasi proyek smelter penggunaan gas alam, pemerintah berharap pengeluaran dalam membangun smelter lebih efisien karena harga yang lebih murah dibanding penggunaan batu bara.

"Dengan gas alam, pendanaan menjadi lebih murah karena tidak mengeluarkan CO2 emisi seperti batu bara. Kalau bisa digabungkan, insyaallah proyek smelter kita efisien," jelasnya.

Pemerintah, sambungnya, telah menyarankan PLN untuk mempelajari peluang kebutuhan tenaga listrik bagi pembangunan proyek smelter dan memasukkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2020-2029. Pengesahan dokumen RUPTL rencananya dilakukan pada awal 2020.

[Gambas:Video CNN] (ara/sfr)