"Yang sudah jalan 100 persen baru 17. Jadi yang belum itu ada sekitar 50 smelter, (jumlahnya) masih sangat besar," kata Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Perencanaan Pembangunan Infrastruktur dan Investasi Triharyo Soesilo di jakarta, Jumat (20/12).
Sebanyak 11 proyek smelter yang rampung merupakan smelter nikel. Sementara, 6 sisanya merupakan smelter bauksit (2), tembaga (2), besi (1) dan mangan (1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gandeng PLN
Rencananya, Kementerian ESDM juga akan menggandeng PT PLN (Persero) Tbk dalam membangun infrastruktur gas alam di wilayah Indonesia Timur.
Pembangunan infrastruktur gas alam bagi pembangkit listrik diharapkan dapat berintegrasi dengan pembangunan proyek smelter yang membutuhkan tenaga listrik.
Dengan integrasi proyek smelter penggunaan gas alam, pemerintah berharap pengeluaran dalam membangun smelter lebih efisien karena harga yang lebih murah dibanding penggunaan batu bara.
"Dengan gas alam, pendanaan menjadi lebih murah karena tidak mengeluarkan CO2 emisi seperti batu bara. Kalau bisa digabungkan, insyaallah proyek smelter kita efisien," jelasnya.
Pemerintah, sambungnya, telah menyarankan PLN untuk mempelajari peluang kebutuhan tenaga listrik bagi pembangunan proyek smelter dan memasukkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2020-2029. Pengesahan dokumen RUPTL rencananya dilakukan pada awal 2020.
[Gambas:Video CNN] (ara/sfr)