Cerita Petinggi OJK Diperiksa Kejagung Terkait Jiwasraya

CNN Indonesia | Kamis, 02/01/2020 17:18 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas OJK Hoesen mengaku diminta keterangan Kejagung soal kasus Jiwasraya. Kepala Eksekutif OJK Hoesen bercerita soal pemeriksaan kasus Jiwasraya yang dilakukan Kejagung kepadanya.(CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen bercerita telah dipanggil Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk dimintai keterangan soal masalah yang menimpa PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Selama pemeriksaan, Hoesen mengaku ditanya soal  mekanisme perdagangan di pasar modal Indonesia secara keseluruhan.

"Kami tidak bahas saham (spesifik), tapi mekanisme pasar seperti apa, karena kan lebih ke pengetahuan mengenai pasar modal," ucap Hoesen, Kamis (2/1).

Ia juga mengaku, ditanya soal pelanggaran dan modus yang sering terjadi di industri pasar modal. Hanya saja, Hoesen tak merinci lebih lanjut modus pelanggaran seperti apa saja yang ia sampaikan ke Kejaksaan Agung.


"Materi pemeriksaan tidak boleh (diomongin)," imbuh dia

Hal yang pasti, katanya, pihaknya akan bekerja sama dengan Kejagung sebagai lembaga hukum yang sedang menangani kasus Jiwasraya. Hoesen menyatakan bakal menghargai setiap langkah yang diambil Kejagung dalam kasus Jiwasraya.

Selain Hoesen, Kejagung juga telah memanggil mantan Direktur Utama Jiwasraya Asmawi Syam, Direktur Utama PT Trimegah Stephanus Turangan, Direktur PT Prospera Yosep Chandra, dan mantan Kepala Pusat Bancassurance Jiwasraya Eldin Rizal Nasution.

Sebelumnya, Kejagung melakukan pencegahan dan penangkalan terhadap 10 orang terkait pengusutan kasus dugaan korupsi di balik defisit anggaran Jiwasraya. Yakni, HR, DA, HP, NZ, DW, GL, ER, HD, BT, dan AS.

Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus Adi Toegarisman mengatakan Jiwasraya berpotensi merugikan keuangan negara Rp13,7 triliun per Agustus. Angka itu juga bisa terus bertambah seiring berkembangnya penyidikan Kejagung.

[Gambas:Video CNN]
Kerugian itu salah satunya disebabkan kesalahan penempatan investasi. Adi menyatakan Jiwasraya banyak menempatkan dananya di saham dengan kinerja buruk.

Direktur Utama Jiwasraya Hexana sebelumnya mengatakan bahwa model pemilihan investasi manajemen lama menjadi salah satu pemicu bobroknya keuangan perusahaan. Ia memaparkan 22,4 persen dari total aset ditempatkan di saham bervaluasi rendah (undervalue) dan hanya 5 persen ada di saham LQ-45.

Kemudian, sebanyak 59,1 persen diinvestasikan di reksa dana saham. Hexana bilang mayoritas reksa dana dikelola perusahaan manajer investasi berkinerja buruk. Hanya 2 persen dana yang diinvestasikan di rekasa dana dan saham dikelola perusahaan manajer investasi berkualitas.

"Jiwasraya banyak melakukan investasi pada high risk asset untuk mengejar high return," pungkas Hexana.

(aud/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK