Kadin Sebut Sektor Ritel Rugi Paling Parah Gara-gara Banjir

CNN Indonesia | Jumat, 03/01/2020 12:38 WIB
Kadin Sebut Sektor Ritel Rugi Paling Parah Gara-gara Banjir Ilustrasi banjir yang mengganggu aktivitas jual beli masyarakat. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan sektor ritel terkena pukulan paling besar dari bencana banjir di kawasan Jabodetabek pada awal 2020.

"Kerugian karena banjir bisa dibilang paling parah ada di ritel, karena aktivitas penjualan menjadi sangat terganggu karena banjir," kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani seperti dikutip dari Antara, Jumat (3/12).

Ia mengungkapkan banyak pusat ritel yang aksesnya tertutup karena banjir. Akibatnya, aktivitas jual beli tidak dapat dilakukan. 


"Ditambah lagi bila banjir sampai masuk ke pusat perbelanjaan," ujarnya.

Shinta juga memperkirakan sektor perhotelan juga terkena imbas negatif. Namun, dampaknya relatif kecil mengingat pada umumnya penjualan kamar hotel sudah terjadi sebelum masa liburan akhir tahun.

"Namun, ini berdampak pada kenyamanan pengunjung dan turis sehingga dampak kerugian nonmaterinya menjadi besar untuk industri perhotelan," ujar Shinta.

Pada sektor logistik, kerugian yang diprediksi juga tinggi, karena perusahaan angkutan tidak dapat beroperasi selama sarana transportasi tergenang air.

Aset sektor logistik juga kemungkinan besar rusak karena banjir. Hal itu akan mengerek biaya perbaikan menjadi tinggi.

"Belum lagi kerugian karena harus menghentikan operasi dan kerugian kalau klien meminta ganti rugi bila muatan tidak dikirimkan tepat waktu," kata Shinta.

Kendati demikian, Kadin belum menghitung total kerugian yang diderita pelaku usaha. Menurutnya, besaran kerugian masing-masing sektor berbeda-beda.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menyebut potensi kerugian materiil yang dialami anggotanya akibat banjir tersebut mencapai sekitar Rp960 miliar.

Kerugian tersebut dibuat dengan memperhitungkan jumlah toko ritel terdata yang tutup akibat banjir. Selain itu, perhitungan juga dibuat dengan melihat jumlah penduduk terdampak banjir dan pengeluaran mereka pada setiap tahun baru.

[Gambas:Video CNN]

Ia mengatakan data yang masuk ke organisasinya, jumlah toko ritel yang terkena dampak banjir dan harus tutup operasi hingga Rabu (1/1) mencapai 300 unit.

Sementara itu, untuk jumlah masyarakat yang terkena dampak banjir mencapai sekitar 32 ribu. Banjir tersebut telah membuat belanja mereka pada awal tahun terganggu.

"Dengan asumsi belanja per orang mencapai Rp100 ribu, jumlah penduduk terdampak 32 ribu dan ritel yang tutup 300, potensi kerugian akibat hilangnya income mencapai Rp960 miliar," ujar Roy pada Kamis (2/1) kemarin.

(Antara/sfr)