Produsen Susu Raksasa AS Bangkrut

CNN Indonesia | Selasa, 07/01/2020 13:51 WIB
Produsen Susu Raksasa AS Bangkrut Produsen susu raksasa Borden Dairy Co mengajukan pailit. Perusahaan mengaku bisnisnya bangkrut dan merugi. (Daria-Yakovleva/Pixabay).
Jakarta, CNN Indonesia -- Borden Dairy Co, produsen susu raksasa dan salah satu yang tertua di Amerika Serikat (AS), menyatakan bangkrut. Perusahaan juga mengajukan pailit seiring dengan ketidakmampuannya membayar utang dan pembayaran pensiun karyawan.

Mengutip CNN.com, Selasa (7/1), perusahaan mengajukan pailit pada 12 November 2019 lalu. Perusahaan mengklaim merugi karena tren industri, serta penurunan konsumsi susu sejak 2015.

Disebutkan bahwa 2.700 peternakan sapi perah gulung tikar dan berhenti memproduksi sejak 1992 silam. Di sisi lain, harga susu terus menanjak karena berkurangnya pemasok dan konsumsi yang turun.

"Terlepas dari banyak pencapaian kami selama 18 bulan terakhir, perusahaan terus dipengaruhi oleh kenaikan biaya susu mentah, dan tantangan pasar yang dihadapi," terang CEO Borden Dairy Tony Sarsam.

Ia menuturkan bahwa perusahaan telah membahas berbagai rencana strategis dan melibatkan 3.300 karyawan, termasuk dengan para kreditur atau pemberi pinjaman. Namun, pembahasan berlangsung alot dan tanpa hasil.

Alhasil, perusahaan tetap memasukkan permohonan untuk pailit, tanpa merinci rencana bisnis jangka panjang, atau khawatir terancam likuidasi. Yang pasti, ia ingin perusahaan segera mengurangi utang dan memposisikan diri untuk kesuksesan jangka panjang.

Perusahaan membukukan penjualan bersih US$1,2 miliar pada 2018. Namun, kerugiannya tercatat lebih besar, yakni sebesar US$14,6 juta. Pada periode Januari-7 Desember 2019, perusahaan melaporkan kerugian US$42,4 juta.

Perusahaan yang didirikan Gail Borden tersebut mengembangkan bisnis komersial susu pertama kali pada 1856. Kemudian, merger dengan produsen susu kental Union Army pada 1861. Pada 1930, Borden telah membeli lebih dari 200 perusahaan susu dan berkembang sampai perusahaan mengajukan pailit pada akhir tahun lalu.
[Gambas:Video CNN]


(bir/sfr)