Penjualan Ritel AS Bed Bath & Beyond Melorot, Saham Rontok

CNN Indonesia | Jumat, 10/01/2020 06:07 WIB
Bed Bath & Beyond mencatat penurunan penjualan dan laba. Alhasi, saham ritel AS itu rontok 16 persen. Bed Bath & Beyond mencatat penurunan penjualan dan laba. Alhasi, saham ritel AS itu rontok 16 persen. (Quinntheislander/Pixabay).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bed Bath & Beyondritel barang rumah tangga, mencatat penurunan penjualan 8,3 persen pada kuartal ketiga 2019. Selama kuartal tersebut, perusahaan ritel AS itu membukukan kerugian US$29 juta.

Diperkirakan penjualan dan laba perusahaan tetap di bawah tekanan pada kuartal keempat 2019.

Akibat, kinerja suramnya tersebut, saham Bed Bath & Beyond rontok 16 persen dalam perdagangan di bursa saham.


CEO Bed Bath & Beyond Mark Tritton, yang baru bergabung per Oktober 2019, mengaku tidak puas dengan kinerja perusahaan. Ia menggarisbawahi perubahan pada manajemen dan membuang pedoman bisnis sebelumnya.

Bulan lalu, Tritton mengumumkan enam manajemen top atas pergi, termasuk salah satu direktur pemasaran, direktur merchandising officer, dan direktur digital officer. Tiga dari enam yang angkat tersebut sudah bekerja selama lebih dari 20 tahun.

Menurut Tritton, Bed Bath & Beyond membutuhkan visi baru. Perusahaan telah berjuang keras untuk bertahan dalam beberapa tahun terakhir berkompetisi dengan pesaingnya, seperti Walmart dan Target, termasuk ritel online, seperti Amazon dan Wayfair.

"Transformasi Bed Bath & Beyond sedang berjalan. Kami akan mengumumkan strategi perusahaan dalam beberapa bulan ke depan," tutur Tritton, seperti dilansir dari CNN.com, Kamis (9/1).

Pada Mei 2019 lalu, Bed Bath & Beyond ditinggalkan pemimpinnya, Steven Temares. Ia mundur secara mendadak, setelah mengabdi sebagai CEO selama lebih dari 15 tahun sejak 2003 silam.
[Gambas:Video CNN] (bir/sfr)