AS-China Damai, Sri Mulyani Berharap Rupiah Kian Menguat

CNN Indonesia | Selasa, 14/01/2020 23:30 WIB
AS-China Damai, Sri Mulyani Berharap Rupiah Kian Menguat Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap kesepakatan dagang fase pertama AS dan China bisa memberi sentimen positif bagi Indonesia. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap kesepakatan dagang fase pertama antara Amerika Serikat dan China bisa memberi sentimen positif bagi Indonesia bagi peningkatan aliran modal yang masuk ke dalam negeri (capital inflow) hingga penguatan nilai tukar rupiah.
"Tentu dinamika nilai tukar (rupiah) akan kami hitung berdasarkan ekonomi dalam negeri dan global. Tapi harapannya, perjanjian AS dengan China, kemudian suku bunga (global) yang rendah bisa menyebabkan capital inflow (bagi Indonesia)," ujar Sri Mulyani, Selasa (14/1).
Kendati berharap dampak positif, namun bendahara negara mengaku tetap akan waspada. Sebab, di luar dinamika global, Indonesia sejatinya masih punya pekerjaan rumah, yaitu menekan tingginya defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD).
"Jadi kami dalam satu tahun perkembangannya dan pengaruhnya ke APBN, kan tidak dalam sehari," katanya.

Sementara dari global, AS dan China akan menggelar kesepakatan dagang fase pertama pada 15 Januari 2020. Kesepakatan ini akan mengurangi perang tarif bea masuk impor yang selama ini dilakukan kedua negara atas produk impor dari masing-masing pihak.
Sentimen kesepakatan dagang fase pertama antara AS-China sempat menguatkan nilai tukar rupiah pada pagi tadi ke kisaran Rp13.650 per dolar AS. Namun, mata uang Garuda berbalik melemah ke Rp13.680 per dolar AS pada perdagangan sore.
Sedangkan dari sisi capital inflow, Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing yang masuk ke dalam negeri mencapai Rp10,1 triliun sejak awal tahun ini. Capital inflow masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp10 triliun dan saham sebesar Rp1,3 triliun.
Sementara defisit transaksi berjalan Indonesia sebesar US$7,7 miliar atau 2,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III 2019. Jumlah ini menurun dibandingkan kuartal II 2019 sebesar US$8,2 miliar atau 2,9 persen dari PDB.

[Gambas:Video CNN]



(uli/age)