"Kita punya batu bara kalori rendah dan ini saya kira cukup banyak jumlahnya dari sisi deposit dan juga tidak bisa diekspor. Belum tentu batubara kalori rendah ini juga secara perekonomian layak untuk dijadikan gas atau bahan bakar cair," kata Fabby di Balai Kartini, Jakarta, Senin (20/1).
Menurut Fabby, pemanfaatan batu bara sendiri juga akan sangat sulit dilakukan mengingat banyaknya negara yang juga berlomba-lomba untuk memanfaatkan cadangan batu bara dalam negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu upayanya adalah dengan memproduksi batu bara menjadi energi alternatif seperti gas ataupun liquid natural gas (LNG).
"Jadi mereka mencoba memodifikasi sumber daya alam, makanya sekarang China atau India mengurangi ekspornya. Ini akan menjadi tren baru menurut saya," jelasnya.
Terlebih, negara-negara tersebut juga memiliki kemajuan dalam teknologi dan infrastruktur pengelolaan batu bara yang terus berkembang.
Dengan demikian, Fabby menyebutkan bahwa Indonesia akan mendapatkan tekanan besar dari adanya pesaing-pesaing tersebut. Untuk itu, produsen Indonesia juga harus membangun infrastruktur yang dapat bersaing dalam proses produksi dan pemberian nilai tambah pemanfaatan batu bara.
"Apalagi kalau tiba-tiba ekspornya terganggu, tekanan untuk menyerap produksi batu bara untuk dalam negeri juga akan terganggu," pungkasnya.
Indonesia sendiri saat ini diketahui sebagai salah satu pemain batu bara terbesar di dunia. Tahun lalu, produksi batu bara Indonesia mencapai 610 juta ton atau lebih tinggi dibandingkan kuota Kementerian ESDM yang sebesar 489 juta ton.
[Gambas:Video CNN]
(ara/sfr)