IESR Ragu Hilirisasi Batu Bara Bisa Gantikan Elpiji

CNN Indonesia | Selasa, 21/01/2020 10:40 WIB
IESR Ragu Hilirisasi Batu Bara Bisa Gantikan Elpiji IESR meragukan program hilirisasi batu bara dapat mengurangi pemakaian elpiji. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa meragukan rencana pemerintah untuk mengolah batu bara menjadi gas dimethyl ether (DME) sebagai pengganti elpiji. Sebab, ia menilai rencana tersebut membutuhkan investasi yang besar.

"Kita punya batu bara kalori rendah dan ini saya kira cukup banyak jumlahnya dari sisi deposit dan juga tidak bisa diekspor. Belum tentu batubara kalori rendah ini juga secara perekonomian layak untuk dijadikan gas atau bahan bakar cair," kata Fabby di Balai Kartini, Jakarta, Senin (20/1).

Menurut Fabby, pemanfaatan batu bara sendiri juga akan sangat sulit dilakukan mengingat banyaknya negara yang juga berlomba-lomba untuk memanfaatkan cadangan batu bara dalam negeri.


Sebab, saat ini terjadi transisi energi dari pemanfaatan energi fosil, menjadi energi terbarukan secara global.

"Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor Indonesia beberapa juga punya batu bara, seperti Tiongkok dan India, negara-negara tersebut juga ingin memanfaatkan batu bara mereka karena mereka tahu waktu pemanfaatan batu bara itu tinggal sedikit," ucapnya.

Ia menyebutkan bahwa, saat ini, dua negara tersebut tengah membatasi untuk melakukan ekspor batu bara, dan lebih fokus terhadap pemanfaatan batu bara tersebut.

Salah satu upayanya adalah dengan memproduksi batu bara menjadi energi alternatif seperti gas ataupun liquid natural gas (LNG).

"Jadi mereka mencoba memodifikasi sumber daya alam, makanya sekarang China atau India mengurangi ekspornya. Ini akan menjadi tren baru menurut saya," jelasnya.

Terlebih, negara-negara tersebut juga memiliki kemajuan dalam teknologi dan infrastruktur pengelolaan batu bara yang terus berkembang. 

"Negara-negara yang juga memproduksi batu bara itu akan berebut pasar. Rusia yang melakukan ekspor di sejumlah bagian di Asia Selatan. Afrika Selatan dan Kolombia juga masuk ke pasar Asia. Artinya produk batu bara Indonesia menghadapi saingan di pasar-pasar yang didominasi oleh Indonesia," katanya.

Dengan demikian, Fabby menyebutkan bahwa Indonesia akan mendapatkan tekanan besar dari adanya pesaing-pesaing tersebut. Untuk itu, produsen Indonesia juga harus membangun infrastruktur yang dapat bersaing dalam proses produksi dan pemberian nilai tambah pemanfaatan batu bara.

"Apalagi kalau tiba-tiba ekspornya terganggu, tekanan untuk menyerap produksi batu bara untuk dalam negeri juga akan terganggu," pungkasnya.

Indonesia sendiri saat ini diketahui sebagai salah satu pemain batu bara terbesar di dunia. Tahun lalu, produksi batu bara Indonesia mencapai 610 juta ton atau lebih tinggi dibandingkan kuota Kementerian ESDM yang sebesar 489 juta ton.

[Gambas:Video CNN]



(ara/sfr)