Calon Kuat Pengisi Kursi Dirut Garuda Indonesia

CNN Indonesia | Selasa, 21/01/2020 17:03 WIB
Calon Kuat Pengisi Kursi Dirut Garuda Indonesia Sejumlah nama mencuat sebagai calon terkuat direktur utama Garuda Indonesia. (PASCAL PAVANI / AFP).
Jakarta, CNN Indonesia -- Posisi direktur utama (dirut) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk tengah kosong usai ditinggalkan oleh Ari Askhara. Kepemimpinan perusahaan pelat merah itu saat ini masih dipegang oleh Pelaksana Tugas (Plt) Dirut Fuad Rizal sejak Jumat (6/12) lalu.

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mencopot Ari dari posisinya lantaran tersangkut kasus dugaan penyelundupan Harley-Davidson. Barang selundupan itu diduga diterbangkan melalui pesawat pesanan jenis Airbus A330-900 yang diterbangkan dari Toulouse, Prancis pada Desember 2019 lalu.

Rencananya, pemegang saham perusahaan akan melangsungkan Rapat Umum Pemegang Saham Biasa (RUPSLB) pada Rabu, 22 Januari 2020 guna menentukan pengganti Ari. Jelang rapat, santer beredar beberapa nama sebagai calon kuat orang namar satu Garuda.


Pengamat Penerbangan Gerry Soejatman mengatakan kriteria tepat untuk mengisi kursi dirut Garuda Indonesia adalah sosok yang memahami seluk beluk industri penerbangan. Pasalnya, Garuda Indonesia memiliki sederet permasalahan yang harus dituntaskan. Tak hanya itu, pimpinan baru juga hendaknya mampu memperbaiki arus kas (cash flow) maskapai penerbangan pelat merah itu.

"Orang yang paham mengenai optimalisasi revenue (pendapatan). Jadi harus paham betul seluk beluk arus kas maskapai karena percuma kalau untung tetapi arus kas negatif," katanya kepada CNNIndonesia.com.

Pengamat Penerbangan Budhi Mulyawan Suyitno menambahkan sosok ideal untuk mengisi kursi dirut adalah mereka yang memiliki integritas dan terbukti mampu mengemban amanah. Ia menuturkan seyogyanya sosok dirut berasal dari luar Garuda Indonesia, sehingga tidak memiliki konflik kepentingan (conflict of interest).

"Kalau mau membersihkan Garuda Indonesia harus maka dirut harus bersih dari sosok Garuda Indonesia di masa lalu," ucapnya.

Berikut beberapa nama yang santer disebut sebagai calon kuat dirut Garuda Indonesia:

Juliandra Nurtjahjo

Juliandra saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Citilink Indonesia. Ia merupakan sosok yang sudah malang melintang di industri penerbangan.

Dalam informasi di akun pribadi LinkedIn, lulusan Universitas Trisakti ini memulai karir di Garuda Indonesia selama kurang lebih 6 tahun. Di Garuda Indonesia ia sempat menduduki beberapa posisi seperti Aircraft Maintenance Engineer hingga Manager of Maintenance Schedule and Performance Analysis.

Ia melanjutkan karir ke entitas anak Garuda Indonesia, PT GMF AeroAsia Tbk. Juliandra tercatat menempuh karir di GMF AeroAsia selama 19 tahun 7 bulan. Di perusahaan MRO itu, ia berhasil menduduki posisi Direktur Utama. Pada Maret 2017, ia dipercaya sebagai Direktur Utama Citilink Indonesia menggantikan Albert Burhan.

Gerry menilai Juliandra sebagai sosok yang berpengalaman di industri penerbangan. Namun demikian, ia tidak dapat memastikan Juliandra adalah sosok yang tepat untuk mengisi posisi orang nomor satu di tubuh maskapai pelat merah itu. 

Sebab, menurut dia, Juliandra belum bisa memperlihatkan kemampuannya secara penuh lantaran masih berada di bawah koordinasi direktur utama Garuda Indonesia sebagai induk perusahaan.

"Tetapi kalau dia sosok tepat apa tidak saya tidak tahu. Saya belum pelajari tentang sosok Juliandra," katanya.

Berbeda dengan Gerry, Budhi mengatakan pengalaman Juliandra di Citilink dan GMF AeroAsia masih kurang untuk memimpin Garuda Indonesia dibandingkan dengan calon potensial lainnya. Pasalnya, kapasitas Citilink Indonesia sebagai perusahaan tak sebanding dengan Garuda Indonesia.

"Selama memimpin GMF AeroAsia, persoalan kinerja GMF AeroAsia juga masih jadi pertanyaan," tuturnya.

Ignasius Jonan
Nama mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) era Kabinet Kerja Ignasius Jonan juga ramai diperbincangkan sebagai calon potensial dirut Garuda Indonesia. Jonan memiliki pengalaman di industri transportasi selama menjabat sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Di bawah kepemimpinannya, KAI sukses menghasilkan kinerja apik baik dari sisi keuangan maupun manajerial.

Jonan mulai menerapkan sistem boarding pass, penjualan tiket secara daring dan toko ritel, serta peremajaan sarana dan prasarana. Atas keberhasilannya, ia dipercaya sebagai menteri perhubungan periode 2014-2016.

Budhi menilai pengalaman Jonan dapat menjadi modal utama sebagai dirut Garuda Indonesia. Menurut dia, persoalan KAI tak jauh beda dengan peliknya permasalahan di tubuh Garuda Indonesia.

"Kalau dia bisa mengurus KAI, maka dia pasti bisa menyelesaikan permasalahan Garuda Indonesia, karena kalau di sektor transportasi mengurus satu moda ke moda lain bisa karena karakternya sama," ucapnya.

Senada, Pengamat BUMN Toto Pranoto juga menjagokan Jonan. Ia mengamini jika pengalaman Jonan di KAI bisa menjadi bekal untuk melenggang ke kursi dirut Garuda Indonesia.

"Contoh ideal bisa seperti Jonan yang dianggap berhasil di KAI," tuturnya.

Faik Fahmi

Faik saat ini menjabat sebagai direktur utama PT Angkasa Pura I (Persero). Ia juga tercatat memiliki pengalaman bekerja di Garuda Indonesia. Lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini pernah menempati posisi General Manager, Vice President di Tokyo Area Manager, hingga Direktur Pelayanan Garuda Indonesia periode 2012-2014.

Lepas dari Garuda Indonesia, Faik melanjutkan karir di PT Angkasa Pura II (Persero). Pada 2016, ia ditunjuk untuk memimpin PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Pada 2017, ia kembali ditunjuk memimpin dunia aviasi dan menjadi Direktur Utama Angkasa Pura I.

Toto menilai sosok Faik adalah calon ideal yang berasal dari internal Garuda Indonesia. Ia meyakini pengalaman Faik di sektor penerbangan bisa menambah nilai plus baginya sebagai calon Dirut Garuda Indonesia.

"Bisa berasal dari internal Garuda Indonesia termasuk alumni yang tersebar di BUMN, seperti Pak Faik di AP I," ucapnya.

Sementara itu, Budhi menyatakan bidang yang digeluti oleh Faik kurang memadai baginya sebagai calon dirut Garuda Indonesia. AP I, kata dia, bergerak di sektor pelayanan penerbangan sedangkan jabatan dirut Garuda Indonesia banyak menuntut pengalaman di sektor penerbangan.

"AP I memang penyedia infrastruktur penerbangan tetapi dalam keselamatan penerbangan masih kurang membidangi pengalamannya," katanya.

Irfan Setiaputra

Nama Mantan Direktur Utama PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI Irfan Setiaputra juga digadang-gadang sebagai calon dirut Garuda Indonesia. Irfan tercatat mengundurkan diri dari PT INTI pada Juli 2012.

Namun demikian, pengamat menilai pengalaman Irfan di bidang penerbangan masih minim. Budhi menuturkan profilnya sebagai calon Dirut Garuda Indonesia masih kalah kuat dibandingkan calon-calon lainnya.

"Irfan masih kalah dari sisi integritas, good corporate governance, dan prestasi kerja juga masih menonjol calon lainnya," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu, Gerry menambahkan bidang kerja yang dipegang Irfan selama ini tidak bersinggungan dengan dunia penerbangan sehingga perlu dipertimbangkan.

"Kalau PT INTI banyak riset dan teknologi, jadi dinamika pasarnya beda dengan industri penerbangan apakah itu bisa dipahami atau tidak," ucapnya.

Dihimpun dari berbagai sumber, Irfan juga pernah bekerja di sektor pertambangan yaitu di PT Titan Mining Indonesia. Ia juga pernah dipercaya sebagai COO ABM Investama Tbk (ABMM) Selanjutnya, Irfan pernah menjabat sebagai President Director & CEO Reswara Minergi Hartama.

Setelah hengkang dari PT INTI, ia menempati posisi CEO Sigfox Indonesia, perusahaan pengelola jaringan Internet of Things (IoT).

Sebelumnya, Erick Thohir mengaku akan mengusulkan tiga calon nama untuk menempati posisi dirut Garuda Indonesia kepada ke tim penilaian akhir (TPA) yang diketuai oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun, Erick enggan membocorkan nama calon pimpinan pucuk Garuda Indonesia.



(ulf/sfr)