"Kami harapkan agar bisa terjadi tanda tangan di Maret paling akhir," ujar Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak di hadapan Komisi VII DPR RI, Rabu (22/1).
Ia menuturkan MIND ID dan Vale telah menyepakati valuasi saham dengan kode INCO tersebut. Valuasi saham didasarkan rata-rata harga saham Vale di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Namun demikian, ia belum merinci valuasi saham Vale.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Inalum Siapkan Rp7 Triliun Beli Saham Vale |
"Dari sisi kami juga terdapat input-input dari kejaksaan dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas transaksi yang kami lakukan," ucapnya.
Untuk diketahui, Vale Indonesia akan melepas 20 persen sahamnya kepada Indonesia melalui MIND ID sebagai holding tambang. Kewajiban ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 77 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba), dimana Vale wajib melepas 40 persen sahamnya secara bertahap.
Mengacu pada amandemen kontrak karya pada 2014, emiten ini telah menjual 20 persen sahamnya lebih dulu pada tahun 1990-an melalui bursa. Dengan demikian, Vale masih memiliki kewajiban divestasi sebesar 20 persen saham.
Orias menyatakan perseroan akan menggunakan kombinasi kas internal dan utang untuk membiayai proses divestasi tersebut. akan tetapi, ia tidak merinci persentase penggunaan kas internal dan pinjaman.
"Saat ini, posisi kas di perusahaan Rp22 triliun dan juga ada kemampuan untuk pinjaman dengan terms (persyaratan) dari pinjaman yang tidak memberatkan perusahaan," katanya.
Ia bilang perseroan akan mencari pinjaman lunak yang memberikan grace period (masa tenggang) dalam periode empat tahunan. Dengan skema itu, kata dia, perseroan hanya memiliki kewajiban membayar bunga utang tiap tahun tanpa pemenuhan pokok utang.
Setelah itu, perseroan baru berkewajiban membayar pokok utang pada tahun keempat. Harapannya, perseroan dapat meraup keuntungan dari investasi Vale setelah tahun keempat.
[Gambas:Video CNN]
"Kami tetap menjaga rasio sehat yang disesuaikan dengan syarat dalam pinjaman, sehingga hasil investasi setelah masuk baru kami akan bayarkan pokok," ungkapnya.
Sebelumnya, Ogi Prasto Miyono yang saat itu menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama, menyatakan perseroan telah menyiapkan dana sebesar US$500 juta atau sekitar Rp7 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS) untuk divestasi tersebut. Lebih lanjut Ogi menjelaskan anggaran yang disiapkan perseroan diperoleh dari sisa pinjaman dari aksi divestasi Freeport sebelumnya.