Perbankan Harap BI Tahan Suku Bunga di 5 Persen

CNN Indonesia | Kamis, 23/01/2020 13:56 WIB
Perbankan Harap BI Tahan Suku Bunga di 5 Persen Perbankan berharap BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5 persen, lantaran ekonomi global masih goyang. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perbankan berharap Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5 persen. Ini lantaran masih ada ketidakpastian ekonomi di global.

Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (Persero) Herry Sidharta mengatakan penurunan suku bunga acuan bisa membuat keadaan memburuk. Oleh karena itu, lebih baik bank sentral menahan suku bunga acuan sembari melihat dinamika ekonomi global.

"Harapan dari kalangan bankir tetap di 5 persen karena masih ada sedikit ketidakpastian global yang membalikkan keadaan. Jadi lebih baik ditahan dulu sambil melihat ekonomi global pada kuartal
I 2020," ucap Herry kepada CNNIndonesia.com, Kamis (23/1).


Ia mengaku tak khawatir dengan pertumbuhan kredit jika BI menahan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar Januari 2020. Herry masih percaya diri penyaluran kredit perusahaan bisa tumbuh di atas 10 persen tahun ini.

"Kalau berkaitan dengan kredit ya relaksasi giro wajib minimum (GWM) untuk menambah likuiditas yang selanjutnya dapat digunakan untuk meningkatkan kredit menjadi dua digit," ujar dia.

Menurut Herry, beberapa sektor yang dapat menopang pertumbuhan kredit BNI tahun ini, antara lain sektor manufaktur, pertanian, perkebunan, dan infrastruktur.

Diketahui, BNI menyalurkan kredit sebesar Rp556,7 triliun sepanjang 2019. Angka itu naik 8,6 persen dari posisi 2018 yang sebesar Rp512,78 triliun.

Senada, Sekretaris Perusahaan PT Bank Mandiri Tbk (Persero) Rohan Hafas menyatakan penurunan bunga acuan BI sejatinya bisa memicu investor menarik dananya dari Indonesia. Sebab, bunga deposito di perbankan dalam negeri jadi kurang menarik.

"Kalau bunga acuan turun, bunga deposito kurang menarik jadi orang mengeluarkan dana dari perbankan. Ini termasuk juga menarik dana ke luar negeri," tutur Rohan.

Terlebih, The Fed juga belum memangkas suku bunga acuannya tahun ini. Oleh karena itu, investor bisa jadi lebih memilih menempatkan dana di luar negeri karena bunga yang ditawarkan lebih menarik.

Di sisi lain, sambung Rohan, penurunan suku bunga acuan sebenarnya bisa memacu pertumbuhan penyaluran kredit. Ini karena beban yang harus dibayar oleh masyarakat akan lebih murah dalam mengajukan kredit.

"Jadi sebenarnya tidak ada yang salah dari sisi makro kalau diturunkan bunga acuan nanti kredit bisa berpotensi naik, tapi mikro nya tadi ya orang bisa narik dana dari perbankan," kata dia.

Rohan sendiri memprediksi BI tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 5 persen. Menurutnya, BI akan mengikuti langkah The Fed yang juga belum memangkas bunga acuannya.

"Ekspektasi saya BI akan pertahankan suku bunga acuan. The Fed belum menurunkan lagi," jelasnya.

Kendati begitu, ia tetap optimistis penyaluran kredit tumbuh dua digit tahun ini. Targetnya sama seperti 2019, yakni kredit tumbuh 10 persen.

"Ya moderat saja. Penopangnya dari sektor mikro dan infrastruktur. Infrastruktur karena proyek masih ada yang berlanjut dari tahun sebelumnya," ungkap Rohan.

Sementara itu, Direktur Keuangan Bank BRI Haru Koesmahargyo mengharapkan BI menurunkan suku bunga acuannya dalam RDG kali ini. Dengan demikian, ada potensi penyaluran kredit lebih menggeliat pada 2020.

"Harapannya tahun ini suku bunga bisa turun lagi. Penurunan suku bunga bisa menjadi salah satu faktor.  untuk mendorong pertumbuhan kredit," ujar Haru.

Sama seperti Bank Mandiri, manajemen BRI menargetkan penyaluran kredit dapat meningkat 10 persen tahun ini. Haru menyebut pihaknya fokus mengerek kredit di sektor mikro.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyatakan pertumbuhan kredit tahun lalu cuma 6,08 persen. Angka itu melambat dibandingkan dengan 2018 lalu yang mencapai 11,7 persen.

Perlambatan ini, tambah Wimboh, terjadi karena banyak korporasi yang mengajukan pinjaman dari luar negeri. Dengan demikian, penyaluran kredit dari bank dalam negeri lebih sepi tahun lalu.

"Ada hal fundamental karena korporasi lebih banyak menggunakan sumber pembiayaan offshore (dari luar negeri)," ucap Wimboh.

Berdasarkan catatannya, pembiayaan yang berasal dari luar negeri meningkat 133,6 persen pada tahun lalu menjadi Rp130,4 triliun. Pembiayaan dari luar negeri diklaim lebih murah, sehingga banyak korporasi yang memilih skema tersebut.

[Gambas:Video CNN]


(aud/age)