Korban Virus Corona Bertambah, Harga Minyak Dunia Tertekan

CNN Indonesia | Selasa, 28/01/2020 07:13 WIB
Korban Virus Corona Bertambah, Harga Minyak Dunia Tertekan Harga minyak kian tertekan di tengah bertambahnya korban Virus Corona. (iStock/nielubieklonu).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia jatuh ke posisi terendah dalam tiga bulan terakhir pada perdagangan Senin (27/1), waktu Amerika Serikat (AS). Anjloknya harga minyak mentah dipicu bertambahnya korban wabah Virus Corona dari Wuhan, China.

Mengutip Antara, minyak mentah berjangka Brent urun US$1,37 atau 2,3 persen menjadi US$59,32 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) melemah US$1,05 atau 1,9 persen ke level US$53,14 per barel. Ini merupakan posisi terendah sejak 2 Oktober 2019 lalu.

Pasar khawatir bertambahnya korban terjangkit Virus Corona akan mengurangi aktivitas perjalanan di negara Tirai Bambu. Kondisi ini dapat memicu perlambatan permintaan minyak mentah.


Untuk diketahui, korban meninggal akibat virus corona naik menjadi 80 orang pada Senin (27/1). Pemerintah China pun memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek hingga 2 Februari 2020 dengan tujuan menjaga sebanyak mungkin penduduknya di rumah untuk mencegah penyebaran virus mematikan itu.

"Semakin banyak penutupan kota di China dan penerbangan dibatalkan mengancam pertumbuhan permintaan minyak global dari salah satu wilayah yang paling stabil," kata RBC Capital Markets dalam sebuah laporan.

Tak hanya minyak, kinerja bursa saham global ikut merosot karena investor semakin cemas tentang krisis yang meluas. Sebaliknya, permintaan untuk aset-aset safe-haven, seperti yen Jepang dan surat utang pemerintah melonjak.

Namun demikian, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dua sekutu dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencoba untuk mengecilkan dampak Virus Corona pada harga minyak mentah. Pemimpin OPEC secara de-facto mengatakan kelompok itu dapat menanggapi setiap perubahan permintaan minyak mentah.

Sementara itu, Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman Al-Saud mengatakan ia meyakini Virus Corona dapat diatasi.

[Gambas:Video CNN]

Sumber OPEC mengatakan ada "diskusi awal" di antara OPEC+ untuk perpanjangan pemotongan pasokan minyak di luar pengiriman Maret. Terbuka kemungkinan pemotongan pasokan lebih dalam jika penyebaran virus China berdampak pada permintaan minyak.

Sebagai informasi, OPEC+ merupakan organisasi yang terdiri dari negara anggota OPEC dan sekutunya termasuk Rusia. OPEC+ telah menahan pasokan untuk mendorong harga minyak selama hampir tiga tahun.

Pada awal tahun mereka sepakat meningkatkan pengurangan produksi sebesar 500 ribu barel per hari (bph) menjadi 1,7 juta barel per hari hingga Maret 2020.

(ulf/sfr)