BKPM Catat Realisasi Investasi Tembus Rp809,6 T pada 2019

CNN Indonesia | Rabu, 29/01/2020 11:35 WIB
BKPM Catat Realisasi Investasi Tembus Rp809,6 T pada 2019 BKPM mencatat realisasi investasi tumbuh 12,24 persen menjadi Rp809,6 triliun pada 2019. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp809,6 triliun sepanjang 2019. Realisasi itu meningkat Rp88,3 triliun atau 12,24 persen dari sebelumnya Rp721,3 triliun pada 2018.

Dalam menghitung realisasi investasi itu, BKPM menggunakan asumsi kurs sebesar Rp15 ribu per dolar AS atau sesuai asumsi APBN 2019. Sebagai catatan, rata-rata kurs rupiah tahun lalu sebesar Rp14.146 per dolar AS.

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan realisasi investasi sepanjang tahun lalu mampu melebih target yang ditetapkan dalam Surat Kepala BKPM No. 371/A.1/2018 mengenai Revisi Target Investasi 2018-2019 kepada Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan.


"Realisasi ini mencapai 102,2 persen dari target 2019 sebesar Rp792 triliun," ucap Bahlil, Rabu (29/1).
Bahlil merinci realisasi investasi itu terbagi atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp423,1 triliun atau 87,5 persen dari target Rp483,7 triliun. Realisasi ini meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp392,7 triliun.

Kemudian, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp386,5 triliun atau 125,4 persen dari Rp308,3 triliun. Realisasi ini juga meningkat dari tahun lalu Rp328,6 triliun.

Berdasarkan periode, aliran investasi tercatat Rp195,1 triliun pada kuartal I, Rp200,5 triliun pada kuartal II, Rp205,7 triliun pada kuartal III, dan Rp2083, triliun pada kuartal IV 2019. Bahlil mengatakan peningkatan realisasi investasi ini sejalan dengan kenaikan penyerapan tenaga kerja.

Penyerapan tenaga kerja meningkat 73.783 orang atau 7,68 persen dari realisasi 2018, 960.052 orang.

"Secara total penyerapan tenaga kerja Indonesia sepanjang 2019 mencapai 1.033.835 orang," ujarnya.
Berdasarkan sektor, aliran investasi terbesar mengalir ke transportasi, gudang, dan telekomunikasi mencapai Rp139 triliun atau 17,2 persen dari total investasi. Kemudian, mengalir ke listrik, gas, dan air sebesar Rp126 triliun atau 15,6 persen dari target.

Lalu, disusul dengan sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp71,1 triliun atau 8,8 persen, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya Rp61,6 triliun atau 7,6 persen, pertambangan Rp59,5 triliun atau 7,4 persen. Sisanya ke sektor industri lain Rp352,4 triliun atau 43,4 persen.

Selanjutnya, berdasarkan negara asal, investasi umumnya berasal dari Singapura mencapai US$6,5 miliar atau 23,1 persen dari total invetasi. Disusul dari China US$4,7 miliar atau 16,8 persen, Jepang US$4,3 miliar atau 15,3 persen, Hong Kong US$2,9 miliar atau 10,2 persen, dan Belanda US$2,6 miliar atau 9,2 persen.

Sisanya, datang dari negara-negara lain dengan akumulasi US$7,2 miliar atau 25,4 persen. Sementara berdasarkan lokasi penempatan, aliran investasi tertanam di Jawa Barat Rp137,5 triliun atau 17 persen dari total investasi.

Lalu, DKI Jakarta Rp123,9 triliun atau 15,3 persen, Jawa Tengah Rp59,5 triliun atau 7,3 persen, Jawa Timur Rp58,5 triliun atau 7,2 persen, Banten Rp48,7 triliun atau 6 persen. Sisanya, mengalir ke daerah lain di Tanah Air mencapai Rp381,5 triliun atau 47,2 persen.

"Peningkatan realisasi investasi di luar Jawa cukup signifikan. Sementara di luar Pulau Jawa terus kami dorong supaya pemerataan ekonomi terjadi," katanya.
(uli/sfr)