Moody's: Virus Corona Ancam Sektor Konsumsi China

CNN Indonesia | Kamis, 30/01/2020 13:05 WIB
Moody's memperkirakan tekanan pada sektor konsumsi China akibat wabah Virus Corona di Wuhan. Moody's memperkirakan tekanan pada sektor konsumsi China akibat wabah virus corona di Wuhan. (Chinatopix via AP).
Jakarta, CNN Indonesia -- Moody's, lembaga pemeringkat internasional menyebut komposisi pertumbuhan ekonomi China berpotensi berubah pada kuartal I 2020. Hal ini dikarenakan tekanan pada sektor konsumsi akibat wabah virus corona yang berkembang dari Wuhan, Hubei.

Laporan terakhir WHO mengungkap bahwa virus corona menginfeksi hampir 6.000 orang di China sendiri. Belum termasuk 15 negara lain yang positif terjangkit. Risiko penyebaran virus corona itu, lanjut Moody's, bakal mempengaruhi kegiatan ekonomi, termasuk pasar keuangan di dalam negeri.

"Virus corona kemungkinan berdampak negatif paling besar pada sektor barang dan jasa di dalam dan di luar China yang bergantung pada konsumen dan produk perantara China. Sejauh ini, perkiraan pertumbuhan ekonomi tahunan China tidak berubah, namun komposisinya bisa berubah," tulis Moody's dalam keterangan resmi, Kamis (30/1).


Moody's memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) China masih di kisaran 5,8 persen pada 2020. Namun, masih ada ketidakpastian yang tinggi karena ancaman penularan wabah virus corona.

Berkaca pada wabah sindrom pernafasan akut SARS pada 2003 silam, pertumbuhan ekonomi dan pasar keuangan China melemah cukup dalam. Beruntung, tekanannya berlangsung dalam periode singkat.

Namun, Moody's mengingatkan epidemi SARS tidak bisa dibandingkan dengan virus corona karena kontribusi sektor konsumsi pada tahun 2003 lebih kecil dibandingkan tahun-tahun setelahnya.

"16 tahun terakhir, kontribusi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi China meningkat tajam. Karenanya, dampak dari virus corona terhadap sektor konsumsi akan lebih terasa sekarang. Diharapkan, kebijakan makro China dapat merespons ini," terang Moody's.

Bila dirinci, tekanan pada sektor konsumsi yang dimaksud Moody's adalah transportasi, penginapan, restoran, ritel, dan bisnis-bisnis jasa dan layanan. Namun, dapat digarisbawahi, dampak pada penjualan ritel secara offline lebih kecil, mengingat penjualan online di China berkembang pesat dalam satu dekade terakhir.

Sekadar informasi, pihak berwenang China telah proaktif dalam mengambil tindakan karantina untuk mengatasi wabah virus corona, termasuk menutup akses di beberapa kota dan menyetop moda transportasi penghubung. Langkah-langkah ini diyakini bisa mencegah penularan lebih lanjut, meskipun kegiatan ekonomi terhambat.

"Setelah menekan konsumsi, efek selanjutnya kemungkinan swasta akan mengurangi investasi swasta di China. Provinsi Hubei akan menanggung dampak terberat," imbuh Moody's.

[Gambas:Video CNN]

(bir/sfr)