Laporan terakhir WHO mengungkap bahwa virus corona menginfeksi hampir 6.000 orang di China sendiri. Belum termasuk 15 negara lain yang positif terjangkit. Risiko penyebaran virus corona itu, lanjut Moody's, bakal mempengaruhi kegiatan ekonomi, termasuk pasar keuangan di dalam negeri.
"Virus corona kemungkinan berdampak negatif paling besar pada sektor barang dan jasa di dalam dan di luar China yang bergantung pada konsumen dan produk perantara China. Sejauh ini, perkiraan pertumbuhan ekonomi tahunan China tidak berubah, namun komposisinya bisa berubah," tulis Moody's dalam keterangan resmi, Kamis (30/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"16 tahun terakhir, kontribusi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi China meningkat tajam. Karenanya, dampak dari virus corona terhadap sektor konsumsi akan lebih terasa sekarang. Diharapkan, kebijakan makro China dapat merespons ini," terang Moody's.
Sekadar informasi, pihak berwenang China telah proaktif dalam mengambil tindakan karantina untuk mengatasi wabah virus corona, termasuk menutup akses di beberapa kota dan menyetop moda transportasi penghubung. Langkah-langkah ini diyakini bisa mencegah penularan lebih lanjut, meskipun kegiatan ekonomi terhambat.
"Setelah menekan konsumsi, efek selanjutnya kemungkinan swasta akan mengurangi investasi swasta di China. Provinsi Hubei akan menanggung dampak terberat," imbuh Moody's.
[Gambas:Video CNN]
(bir/sfr)