Sri Mulyani Lebih Khawatir Corona Dibandingkan Brexit

CNN Indonesia | Sabtu, 01/02/2020 06:01 WIB
Sri Mulyani Lebih Khawatir Corona Dibandingkan Brexit Menteri Keuangan Sri Mulyani ungkap lebih fokus dampak virus Corona daripada Brexit ke ekonomi Indonesia. (Hector RETAMAL / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan pihaknya lebih fokus memperhatikan dampak ekonomi yang diberikan dari wabah virus Corona dari China ketimbang keputusan keluar Inggris dari Uni Eropa (Britania Exit/Brexit).

Sebab, wabah virus lebih mempengaruhi perekonomian dunia dan Indonesia dalam jangka pendek ketimbang Brexit.

"Mungkin sekarang kami lebih concern mengenai Corona karena magnitude dari pengaruhnya masih belum settle karena kami belum tahu penyebarannya, tapi tingkat kematian yang meningkat secara cepat," ujar Sri Mulyani, Jumat (31/1).


Laporan sementara setidaknya mencatat jumlah korban meninggal akibat virus Corona telah mencapai 213 orang. Sementara jumlah korban terjangkit virus mencapai 9.356 orang.

Jumlah tersebut sudah melampaui wabah SARS yang merebak pada 2002-2003. Saat itu jumlah penduduk di seluruh dunia yang terjangkit virus itu mencapai 8.098 orang dengan total korban meninggal 774 orang.

Sementara terhadap Brexit, bendahara negara menilai keputusan ini tidak akan terlalu mempengaruhi ekonomi dunia dan Tanah Air karena prosesnya sudah diselenggarakan sejak lama. Seluruh negara, termasuk Indonesia, katanya, sudah mengukur dan mengantisipasi kemungkinan dampak yang bisa diberikan.

"Ini sudah price in karena sudah lama prosesnya," imbuhnya.

Kendati begitu, keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa sejatinya bukan berarti tidak ada dampak sama sekali. Ia melihat dampak akan terasa dalam jangka panjang.

Sebab, hal ini akan mempengaruhi hubungan kerja sama perdagangan dan investasi antara Inggris dengan negara-negara di dunia, termasuk Indonesia di masa yang akan datang. Maklum saja, sebelumnya Inggris sebagai bagian dari Uni Eropa kerap menggunakan perjanjian menyeluruh yang juga diterapkan ke negara-negara di Benua Biru lain.

Namun, dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, maka bisa saja perjanjian yang semula disepakati dengan negara-negara lain jadi berubah. Selain itu, perjanjian antara Inggris dan Uni Eropa pun bisa saja berubah dan memberi pengaruh ke negara-negara lain di dunia.

"Dalam jangka pendek tidak ada, namun jangka panjang ada. Kami tentu harus waspada dalam artian bahwa keduanya kalau bersikeras di suatu agreement yang tidak menguntungkan kedua belah pihak," terangnya.

Khusus untuk Inggris sendiri, mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu melihat Indonesia perlu terus memantau perkembangan ekonomi negara tersebut. "Jangan lupa, selama ini London jadi financial center hub. Mungkin ini akan memberikan dinamika yang harus kami baca secara sangat teliti," tuturnya.

Inggris akan mengumumkan keputusan keluar dari Uni Eropa pada hari ini. Duta Besar Inggris di Jakarta Owen Jenkins mengungkapkan pemerintah Inggris sangat percaya diri dengan keputusan ini.

Jenkins menganggap Inggris selama ini adalah sebuah negara yang ambisius dengan ekonomi terbesar keenam di dunia. Ia juga mengatakan Inggris menjadi salah satu negara dengan indeks kemudahan melakukan bisnis terbaik.


Dalam bidang teknologi, Inggris terutama Kota London, kata Jenkins, juga menjadi rumah bagi perusahaan rintisan terbanyak mengalahkan Amerika Serikat dan China. Inggris, tuturnya, menjadi negara tujuan pertama bagi investasi asing di Eropa, terutama dalam bidang teknologi.

"Jadi kami merasa sangat percaya diri melihat kemampuan kami untuk mengambil langkah terobosan baru yang mandiri di dunia," kata Jenkins.

Dalam bidang turisme, Jenkins menuturkan Inggris juga memiliki beberapa situs dan ikon pariwisata terkenal di dunia seperti Loch Ness, Stonehenge, Big Ben, hingga bianglala the London Eye.

Jenkins juga dengan bangga mengatakan Inggris merupakan tempat lahir sejumlah tokoh fiksi seperti Harry Potter, James Bond, Sherlock Holmes, sastrawan dunia Shakespeare, dan pesohor dunia seperti Ed Sheeran.

Menurutnya, keluar dari Uni Eropa memberikan Inggris kesempatan untuk bisa lebih mandiri dalam menerapkan kebijakan.
Meski begitu, Jenkins menegaskan Inggris akan tetap menerapkan nilai-nilai dan prinsip Eropa meski telah keluar dari Uni Eropa.

"Keluar dari Uni Eropa menjadikan kami bisa lebih mendunia. Inggris yang mendunia berarti hubungan baru dengan Uni Eropa dan hubungan bilateral yang lebih erat dengan negara lain termasuk dengan Indonesia," tuturnya.

[Gambas:Video CNN]

(uli/age)