Sebab, wabah virus lebih mempengaruhi perekonomian dunia dan Indonesia dalam jangka pendek ketimbang Brexit.
"Mungkin sekarang kami lebih concern mengenai Corona karena magnitude dari pengaruhnya masih belum settle karena kami belum tahu penyebarannya, tapi tingkat kematian yang meningkat secara cepat," ujar Sri Mulyani, Jumat (31/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumlah tersebut sudah melampaui wabah SARS yang merebak pada 2002-2003. Saat itu jumlah penduduk di seluruh dunia yang terjangkit virus itu mencapai 8.098 orang dengan total korban meninggal 774 orang.
Lihat juga:Tips Nikah Hemat Tapi Tetap Nikmat |
"Ini sudah price in karena sudah lama prosesnya," imbuhnya.
Kendati begitu, keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa sejatinya bukan berarti tidak ada dampak sama sekali. Ia melihat dampak akan terasa dalam jangka panjang.
Sebab, hal ini akan mempengaruhi hubungan kerja sama perdagangan dan investasi antara Inggris dengan negara-negara di dunia, termasuk Indonesia di masa yang akan datang. Maklum saja, sebelumnya Inggris sebagai bagian dari Uni Eropa kerap menggunakan perjanjian menyeluruh yang juga diterapkan ke negara-negara di Benua Biru lain.
"Dalam jangka pendek tidak ada, namun jangka panjang ada. Kami tentu harus waspada dalam artian bahwa keduanya kalau bersikeras di suatu agreement yang tidak menguntungkan kedua belah pihak," terangnya.
Khusus untuk Inggris sendiri, mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu melihat Indonesia perlu terus memantau perkembangan ekonomi negara tersebut. "Jangan lupa, selama ini London jadi financial center hub. Mungkin ini akan memberikan dinamika yang harus kami baca secara sangat teliti," tuturnya.
Inggris akan mengumumkan keputusan keluar dari Uni Eropa pada hari ini. Duta Besar Inggris di Jakarta Owen Jenkins mengungkapkan pemerintah Inggris sangat percaya diri dengan keputusan ini.
Dalam bidang teknologi, Inggris terutama Kota London, kata Jenkins, juga menjadi rumah bagi perusahaan rintisan terbanyak mengalahkan Amerika Serikat dan China. Inggris, tuturnya, menjadi negara tujuan pertama bagi investasi asing di Eropa, terutama dalam bidang teknologi.
"Jadi kami merasa sangat percaya diri melihat kemampuan kami untuk mengambil langkah terobosan baru yang mandiri di dunia," kata Jenkins.
Dalam bidang turisme, Jenkins menuturkan Inggris juga memiliki beberapa situs dan ikon pariwisata terkenal di dunia seperti Loch Ness, Stonehenge, Big Ben, hingga bianglala the London Eye.
Menurutnya, keluar dari Uni Eropa memberikan Inggris kesempatan untuk bisa lebih mandiri dalam menerapkan kebijakan. Meski begitu, Jenkins menegaskan Inggris akan tetap menerapkan nilai-nilai dan prinsip Eropa meski telah keluar dari Uni Eropa.
"Keluar dari Uni Eropa menjadikan kami bisa lebih mendunia. Inggris yang mendunia berarti hubungan baru dengan Uni Eropa dan hubungan bilateral yang lebih erat dengan negara lain termasuk dengan Indonesia," tuturnya.
[Gambas:Video CNN]
(uli/age)