Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian PPN/Bappenas Kennedy Simanjuntak mengatakan ketertinggalan ini dipicu oleh lemahnya lembaga otoritas yang mengelola transportasi publik. Dirinya menilai masih banyak aspek yang harus dibenahi oleh pemerintah seperti kejelasan lembaga perencana, pelaksana, pengelola, dan pengoperasi.
"Bagaimana dibanding dengan kota-kota lain? Yang paling baik adalah di New York dan London, mereka ada otoritas, kelembagaannya jelas, pengelolaannya jelas dan bersifat korporasi," paparnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, untuk daerah Jabodetabek, telah dibentuk badan koordinasi serupa yaitu Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ). Namun Kennedy menilai keberadaan BPTJ perlu diperkuat sebab, menurutnya, hingga saat ini BPTJ hanya menjadi badan koordinasi.
Sementara itu, Deputi III Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Ridwan Djamaluddin menyebut kemacetan mengakibatkan pemborosan BBM sebesar Rp29,7 triliun per tahun dan kerugian kesehatan sebesar Rp38,5 triliun untuk mengobati penyakit akibat polusi dan stres.
[Gambas:Video CNN]
Senada dengan Bappenas, Ridwan mengatakan bahwa lemahnya instansi pengelola transportasi masal menjadi pemicu rendahnya integrasi angkutan umum yang berujung pada seretnya pangsa angkutan umum.
"Seperti di Uni Eropa transportasi dikelola oleh satu instansi, di sini juga harus bisa begitu," katanya.
Sebagai informasi, badan otoritas yang memiliki wewenang dalam merencanakan, membangun, dan mengoperasikan transportasi massal di beberapa kota besar di antaranya Metropolitan Transportation Authority (MTA) New York yang mengelola transportasi New York; Transportation for London (TFL) di London; dan Syndicat des Transports Parisiens (STP) untuk Paris.
(wel/sfr)