Dikutip dari berbagai sumber, pria kelahiran Blitar pada 7 Desember 1932 merupakan ekonom handal yang pernah dimiliki Indonesia. Ia juga telah malang melintang di pemerintahan saat Orde Baru.
Sejumlah jabatan penting di pemerintahan pernah dipegangnya, mulai dari kepala BPK hingga sebagai Menteri Keuangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah itu, ia dipercaya menjadi kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan menteri Keuangan. Ketika menjadi menteri keuangan inilah, sejumlah kebijakan penting ia telurkan.
Salah satu kebijakan tersebut dikenal dengan Gebrakan Sumarlin I. Gebrakan tersebut adalah pengetatan moneter dengan cara menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Dia pun mengeluarkan kebijakan yang mendukung pengendalian inflasi dan memperkuat struktur perkreditan yaitu Paket Kebijakan Deregulasi di Bidang Moneter, Keuangan dan Perbankan (Pako 1988), Paket Maret 1989, dan Paket Januari 1990.
Kebijakan ini malah menghasilkan ekspansi kredit perbankan yang berlebihan dan kurang selektif. Pada Maret 1991 Gebrakan Sumarlin II dikeluarkan. Gebrakan II ini mampu mengekang laju inflasi hingga secara berangsur-angsur turun menjadi 4,9 persen pada 1992.
Selain itu, di era kepemimpinannya, ia juga dinilai berperan dalam memperbaiki Kementerian Keuangan dari sejumlah penyimpangan, salah satunya pungutan liar.
Selain membenahi fiskal, ia juga pernah didapuk Soeharto untuk mencari solusi ketika Pertamina dilanda krisis keuangan pada 1975. Bersama dengan sejumlah menteri, ia ditugasi menyelesaikan beban Pertamina.
Di tengah kinerjanya tersebut, ia pernah mendapatkan julukan sebagai anggota 'Mafia Berkeley'. JB Sumarlin mengungkap kelompok tersebut sebenarnya berisi para ekonom lulusan Berkeley yakni dirinya, Emil Salim, Widjoyo dan Ali Wardhana.
Selain itu, ia juga mendapatkan julukan 'Si Kancil' dari Presiden Soeharto.
(age/agt)