Mayoritas anggota Komisi XI mempertanyakan fungsi pengawasan yang dilakukan oleh bursa sebagai regulator di pasar modal. Anggota Komisi XI Mukhamad Misbakhun, salah satunya, mempersoalkan pengawasan pada saham-saham gocap atau Rp50.
Pasalnya, saham-saham tersebut biasanya digunakan oleh oknum pasar modal untuk mendapatkan keuntungan. Hal serupa juga terjadi di Jiwasraya, di mana instrumen investasi ditempatkan pada saham gocap tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggota Komisi XI lainnya, Ramson Siagian, mempertanyakan saham-saham apa saja yang menjadi instrumen investasi Jiwasraya di pasar modal. Ia juga meminta bursa menjelaskan bagaimana saham-saham yang diborong perusahaan asuransi itu nilainya turun.
"Kan ada saham gorengan, artinya ini bisa saja seharusnya tidak naik, tapi dibeli dulu lalu naik dia, itu tolong dijelaskan prosesnya," ucapnya.
Menjawab pertanyaan tersebut, Direktur Utama BEI Inarno Djayadi menjelaskan bursa telah menerapkan sistem Jakarta Automated Trading System (JATS) dan Securities Markets Automated Research Trading and Surveillance (SMARTS). Semua transaksi perdagangan terekam melalui sistem tersebut.
"Jadi kalau ada kenaikan atau penurunan luar biasa sistem tersebut memberikan alert kepada kami," paparnya.
[Gambas:Video CNN]
Setelah mendapatkan peringatan dari sistem, ia melanjutkan manajemen BEI mengambil langkah terhadap saham emiten. Langkah tersebut meliputi Unusual Market Activity (UMA) dan penghentian sementara perdagangan saham (suspensi).
Sebelumnya, bursa telah melakukan suspensi perdagangan efek lima emiten pada Kamis (23/1). Suspensi itu berkaitan dengan proses pemeriksaan kasus Jiwasraya.
Lima emiten yang dimaksud, antara lain PT inti Agri Resources Tbk (IIKP), PT SMR Utama Tbk (SMRU), PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP), dan PT Hanson International Tbk (MYRX).
Jiwasraya sendiri banyak menempatkan investasi pada aset berisiko di pasar modal. Secara rinci, 22,4 persen dari total aset ditempatkan di saham bervaluasi rendah (undervalue) dan hanya 5 persen ada di saham LQ-45. Kemudian, sebanyak 59,1 persen diinvestasikan di reksa dana saham. (ulf/bir)