Maklum, uang senilai Rp500 juta yang ia percayakan kepada Jiwasraya tak jelas nasibnya. Padahal, sepeninggal sang suami, dana tersebut menjadi tumpuan Ida dan anak-anaknya untuk menyambung kehidupan. Tak heran, jika ibu dari tiga anak tersebut meminta pemerintah bertanggung jawab.
Toh, keputusannya menempatkan uangnya di Jiwasraya karena perusahaan asuransi jiwa itu dimiliki oleh negara. Ia meyakini negara tak mungkin mengkhianati kepercayaan warganya sendiri. Sayangnya, fakta yang terjadi tidak demikian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski 15 bulan berlalu tanpa kejelasan, Ida tak berhenti mencari asa. Ia bersama 50 orang nasabah lainnya yang tergabung dalam Forum Korban Gagal Bayar Asuransi Jiwasraya mendatangi kantor Kementerian Keuangan untuk bertemu langsung dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Harapannya, bendahara negara memiliki solusi atas permasalahan mereka.
Satu per satu nasabah mulai meramaikan lobi Gedung Djuanda I Kementerian Keuangan pada Kamis (6/2) pukul 09.00 WIB. Gerimis pun tak menyurutkan langkah mereka untuk memperjuangkan haknya.
Tetapi, hal tersebut tidak menyurutkan tekad bulat mereka untuk bertatap muka dengan Sri Mulyani. Nasabah pun rela menunggu di lobi hingga dua jam. Setelah dua jam menunggu, tepatnya pukul 11.00 WIB mereka akhirnya luluh dan menitipkan surat tersebut kepada Darmawan untuk diserahkan kepada bendahara negara.
"Kami mendapat informasi akan ada surat yang disampaikan kepada pimpinan kami, untuk hal tersebut kami akan menerima dengan terbuka surat tersebut. Kami akan memastikan surat yang bapak ibu sampaikan akan diberikan kepada pimpinan kami," ujar Darmawan.
Nasabah yang datang sempat berdiskusi dengan Darmawan di sebuah ruangan serta disaksikan langsung oleh awak media. Pada Darmawan, nasabah menyampaikan seluruh keluh kesahnya. Namun, tak ada solusi maupun jawaban yang dapat diberikan oleh Darmawan karena ia sendiri tak memiliki kapasitas. Ia hanya bisa berjanji meneruskan surat dan keluhan nasabah kepada Sri Mulyani.
Sri Mulyani pun memberikan tanggapan singkat atas kunjungan nasabah tersebut. Ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu hanya melontarkan komentar singkat.
"Aku belum ke sana," ujar Sri Mulyani.
Meski tak sesuai harapan, para nasabah tetap melanjutkan perjuangan mereka menyambangi kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bidang pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) di bilangan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Ironisnya, perlakuan berbeda diterima nasabah saat bertemu dengan regulator jasa keuangan tersebut. Kedatangan mereka sempat dihalau oleh petugas keamanan gedung.
"Kami tidak dijanjikan bertemu siapa-siapa, kami diundang, kami dihalangi. Tadi pas sampai di sini tidak boleh masuk," ujar salah satu nasabah Muhammad Feroz.
Kedatangan mereka diterima oleh Deputi Direktur Pengawasan Asuransi OJK I Wayan Wijana. Lagi-lagi, perwakilan OJK itu hanya bisa menampung keluhan nasabah tanpa memberikan jawaban pasti karena tak memiliki kewenangan menjawab.
"Kami bertemu Pak Wayan salah satu deputi komisioner, dia hanya mendengar saja tidak memberi jawaban," ungkap salah satu nasabah, Haresh Nandwani.
Mewakili nasabah lainnya, Haresh menilai OJK sebagai regulator jasa keuangan tidak profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai pengawas jasa keuangan sekaligus pelindung nasabah. Ia mendesak OJK dapat menemukan solusi pengembalian dana nasabah.
Kepada OJK, mereka juga melayangkan surat yang ditujukan langsung kepada Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. Surat tersebut berisi permintaan audiensi dengan OJK karena regulator tak kunjung mengabulkan permintaan audiensi mereka sebelumnya.
Kali ini, awak media tak diperbolehkan mengikuti pertemuan dengan OJK. CNNIndonesia.com telah menghubungi Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot untuk meminta tanggapan atas pertemuan tersebut, namun yang bersangkutan belum menjawab.
Sebetulnya, upaya nasabah untuk bertatap muka langsung dengan menteri atau otoritas terkait bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, kurang lebih 15 nasabah menyambangi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada Desember 2019 lalu.
Tetapi, mereka juga pulang dengan tangan kosong karena tidak ada satu pun pejabat di kementerian yangdikomandaniErickThohir tersebut mau keluar dan menemui mereka. Kala itu, mereka telah menunggu lebih dari dua jam dan hanya berhasil bertemu kepala keamanan atau satpam Kementerian BUMN. Lalu, pemerintah menelantarkan nasabah dan membiarkan mereka pulang dengan tangan kosong. (age)