Airlangga Soal Dampak Corona: Kita Tidak Tergantung China

CNN Indonesia | Kamis, 13/02/2020 19:25 WIB
Airlangga Soal Dampak Corona: Kita Tidak Tergantung China Menko Airlangga mengklaim dampak Virus Corona tak signifikan karena Indonesia tak memiliki ketergantungan rantai pasok global dengan China. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah mengklaim dampak Virus Corona ke perekonomian Indonesia tidak terlalu signifikan. Pasalnya, Indonesia tidak memiliki ketergantungan global value chain (rantai pasok global) besar dengan China, negara asal wabah Virus Corona.

"Global value chain produk kita itu enggak bergantung China, masih (lebih besar) Korea, Jepang. Itu membantu perekonomian nasional. Namun, tentu ini perlu diperkuat lagi," katanya, Kamis (13/2).

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia mayoritas ditopang oleh konsumsi rumah tangga yaitu kurang lebih 56 persen.


Menurutnya, ini menjadi faktor defensif ekonomi Tanah Air dari ketidakpastian global termasuk penyebaran Virus Corona.

Namun demikian, ia bilang bukan berarti pemerintah tidak melakukan respons apapun. Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meminta seluruh Kementerian/Lembaga (K/L) untuk membelanjakan anggaran di awal tahun alias front loading.

"Ini seperti di awal 2019. 2019 memang khusus, kalau kami juga bisa lakukan yang sama di semester ini, maka tentu ini bisa jadi daya tahan untuk menunggu ekonomi dunia (stabil) ataupun kepastian di perekonomian," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kemenko Perekonomian, Iskandar Simorangkir menjelaskan meski dari sisi ekspor, China merupakan pasar terbesar Indonesia namun mayoritas produknya adalah Sumber Daya Alam (SDA).

Kementerian Perdagangan yang menyebutkan produk utama ekspor non migas Indonesia ke China meliputi batu bara muda, minyak kelapa sawit dan turunannya, batu bara, bubur kayu kimia, feronikel, batu bara bitumen, serta bijih nikel, dan konsentrat.

Sepanjang 2019, ekspor non migas ke China mencapai US$25,85 miliar setara 16,68 persen dari total ekspor non migas.

"Kalau itu namanya lepas, jadi dia tidak tergantung global value chain. Kalau kita batu bara itu lepas, jadi kita bisa alihkan ke negara lain," ujarnya.

Ini berbeda dengan negara yang mempunyai ketergantungan global value chain dengan China. Mereka, kata Iskandar, cenderung lebih sulit mencari pasar baru. Sebagai contoh, lanjutnya, adalah produsen komponen mobil yang memasok barang ke China.

Sebelumnya, Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian Susiwijono Moegiarso menambahkan pemerintah juga mulai mencari alternatif pangsa pasar non tradisional. Harapannya, mampu mengurangi dampak pada ekspor maupun impor dari China.

"Kemudian kami jaga pasokan impor bahan baku industri, jadi teman-teman dari Kemenperin dan Kemendag pasokan industri tetap kami kawal dan tetap jalan. Sementara ini, masih jalan dari China, tetapi kami antisipasi kalau ada perubahan lebih jauh," tutur Susiwijono.

[Gambas:Video CNN]


(ulf/age)