"Menjalankan bisnis di Papua itu mudah, asal kalian masuknya pas dan benar. Perlu perhatian khusus dalam konteks sosialisasi dengan rakyat," katanya, Kamis (27/2).
Permasalahan lahan, kata Bahlil, menjadi hambatan terbesar investasi di Bumi Cendrawasih. Karenanya, ia meminta pemerintah daerah (pemda) menuntaskan persoalan lahan sehingga memberikan kepastian kepada investor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian, ia memastikan kerusuhan di Papua tak bakal mengganggu investasi sebab pemerintah masih dapat mengendalikan kerusuhan tersebut. Toh, lanjutnya, tak semua wilayah Papua mengalami kerusuhan.
Sekadar mengingatkan, pada September 2019 lalu terjadi aksi unjuk rasa di Wamena, Papua yang berujung ricuh. Kerusuhan diduga karena perilaku rasialis terhadap warga Papua hingga berujung pembakaran Kantor Bupati Jayawijaya dan pembunuhan warga. Imbasnya, para warga di Wamena terpaksa mengungsi ke tempat aman.
[Gambas:Video CNN]
"Kalau kemarin itu dinamika saja. Saya pikir semua tempat di Indonesia punya potensi untuk ada gejolak. Tapi gejolak itu yang penting kami me-manage untuk bisa menyelesaikan," tuturnya.
Lebih lanjut, BKPM menyebut hambatan investasi di Papua adalah kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) lokal dan minimnya pendampingan oleh pemerintah setempat. Pengusaha juga mengeluhkan perpajakan yang berlapis serta gangguan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional maupun lokal.
Untuk informasi, investasi di Papua mencapai Rp15,06 triliun pada 2019. Rinciannya, Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar US$941 juta setara Rp14,11 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp947,9 miliar. Sebagai catatan, BKPM menggunakan acuan kurs Rp15 ribu per dolar AS untuk mengkonversi PMA.