Investor 'Bertaruh' Virus Corona Hanya Berefek Jangka Pendek

CNN Indonesia | Minggu, 23/02/2020 06:03 WIB
Investor 'Bertaruh' Virus Corona Hanya Berefek Jangka Pendek Investor menilai virus corona hanya berdampak jangka pendek. Ilustrasi. (CNNIndonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak perusahaan was-was virus corona bakal menyulitkan untuk memenuhi target penjualan atau laba kuartal pertama tahun ini. Namun, ternyata masih banyak investor 'bertaruh' dengan menganggap virus corona hanya berdampak jangka pendek.

"Sebagian besar investor telah mengambil pandangan bahwa dampaknya akan bersifat sementara, semoga berumur pendek, dan sebagian besar kelemahan harus dibalik dengan rebound kuat di kuartal berikutnya," ujar Kepala Strategi Ekuitas Global di Goldman Sachs Peter Oppenheimer dikutip dari CNN.

Hal tersebut tercermin dari banyaknya proyeksi keuangan yang mengasumsikan virus corona hanya akan mewabah di China selama beberapa minggu dan bulan mendatang. Selain itu, perusahaan besar juga optimistis wabah tersebut tidak akan menyebar luas di negara lain.


Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan virus corona menggerus pendapatan maskapai penerbangan global sekitar US$30 miliar pada pekan ini karena penurunan permintaan global 4,7 persen.

Namun, IATA tetap merasa yakin kerugian tersebut dapat pulih apabila wabah dapat ditangani dalam jangka pendek.

Perkiraan itu didasarkan pada gangguan ekonomi yang disebabkan oleh SARS ketika mewabah di China pada 2003 lalu. Virus itu menyebabkan kerusakan perekonomian selama beberapa bulan, termasuk untuk maskapai penerbangan. Kendati demikian, pemulihan pesat terjadi setelahnya.

"Kami belum tahu persis bagaimana wabah (virus corona) akan berkembang, dan apakah akan mengikuti profil yang sama dengan SARS atau tidak," ucap pihak IATA.

Tak hanya sektor penerbangan, bisnis besar di sektor wisata dan bidang pengiriman juga menyatakan hal yang sama.

Pada Kamis (20/2) lalu, perusahaan pengiriman peti kemas terbesar di dunia Maersk mengaku merasakan dampak besar dengan tutupnya pabrik-pabrik di China. Sejak virus itu mewabah, barang yang diangkut hanya sekitar 50 persen hingga 60 persen dari kapasitas pada kondisi normal.

Namun demikian, CEO Maersk Søren Skou memperkirakan produksi meningkat hingga 90 persen pada minggu pertama Maret walaupun ia mengakui masih ada banyak ketidakpastian.

Selanjutnya, Disney (DIS) juga mengaku pendapatan dari taman bermain di China dapat turun US$280 juta pada kuartal I 2020, dengan asumsi resor ditutup selama dua bulan. Namun, ia masih optimistis operasi dapat kembali normal saat wabah dapat diatasi dalam waktu dekat.

"Besarnya dampak keuangan sangat bergantung pada durasi penutupan dan seberapa cepat kami dapat melanjutkan operasi normal," kata CFO DIS Christine McCarthy.

Risiko Besar

Pertaruhan tersebut rupanya memiliki risiko yang besar. Pasalnya, banyak perusahaan yang akhirnya mengandalkan peningkatan perekonomian China untuk bangkit. Jika ternyata ekonomi China tidak dapat kembali melaju secepat yang diharapkan, kemungkinan besar investor akan kaget.

Virus corona sendiri telah menyebabkan kerusakan yang signifikan secara global. Hal itu mengingat China merupakan negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia.

Kebijakan China untuk menahan penyebaran virus telah membuat kota-kota terkunci dan pabrik-pabrik ditutup, menyebabkan gangguan luas terhadap bisnis di seluruh dunia, yang mengandalkan Cina sebagai pembangkit tenaga listrik manufaktur dan pasar untuk barang-barang mereka. Terlebih, kondisi yang kini semakin tak menentu akibat peningkatan kasus di beberapa wilayah memperbesar risiko yang ada.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan ada kekhawatiran potensi virus corona untuk menyebar ke luar China masih tinggi.

"Walaupun masih ada waktu untuk menahan virus, tetapi peluang terbuka semakin sempit," ucap Tedros.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva memprediksi perekonomian China akan menurun drastis di kuartal I 2020 ini. Apabila wabah corona menjadi pandemi global, sebanyak US$1 triliun dapat berpotensi lenyap dari ekonomi dunia.

"Sementara, apabila pandemik yang terbatas di Asia akan merenggut sekitar US400 miliar dari PDB global pada 2020," ucapnya.

Strategi konkret pemerintah China pun belum diketahui. Beberapa langkah untuk meredam pukulan terhadap ekonomi domestik melalui stimulus fiskal dan subsidi, dan mungkin meningkatkan langkah-langkah untuk mengatasi dampak buruknya.

[Gambas:Video CNN]

Dikutip dari AFP, hingga Sabtu (22/2), virus corona telah menewaskan 2.345 orang dan menginfeksi lebih dari 76 ribu orang.

Kasus virus corona di Korea Selatan yang merupakan produsen utama chip memori yang digunakan dalam smartphone, telah melonjak dari sekitar 28 minggu lalu menjadi lebih dari 200. Singapura melaporkan 86 kasus, sementara Iran mengatakan Jumat bahwa virus telah menyebar ke beberapa kota.

(ara/sfr)