Rupiah Anjlok ke Rp14.318 per Dolar AS Tertekan Virus Corona

CNN Indonesia | Jumat, 28/02/2020 16:40 WIB
Rupiah terperosok 2,09 persen ke Rp14.318 per dolar AS pada Jumat (28/2) sore akibat tertekan wabah virus corona. Rupiah anjlok 2,09 persen ke level Rp14.317 per dolar AS akibat infeksi virus corona. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.318 per dolar AS pada Jumat (28/2) sore. Posisi tersebut melemah 2,09 persen dibandingkan nilai pada penutupan perdagangan pada Kamis (27/2).

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.234 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi Kamis (27/2), yakni Rp14.018 per dolar AS.

Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Tercatat, yen Jepang menguat 0,86 persen, dolar Taiwan 0,30 persen, dan yuan China 0,26 persen.

Selanjutnya, baht Thailand menguat 0,21 persen, won Korea 0,20 persen, diikuti dolar Singapura sebesar 0,08 persen. Di sisi lain, pelemahan terjadi pada rupee India sebesar 0,80 persen, lira Turki 0,57 persen, peso Filipina 0,28 persen, dan ringgit Malaysia 0,09 persen terhadap dolar AS.


Kemudian di negara maju, mayoritas nilai tukar bergerak melemah terhadap dolar AS. Terpantau, poundsterling Inggris melemah sebesar 0,03 persen. Selain itu, dolar Kanada dan dolar Australia juga melemah dengan nilai masing-masing 0,41 persen dan 0,55 persen. Sementara, hanya euro yang menguat 0,41 persen terhadap dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah pada hari ini masih disebabkan oleh sentimen negatif dari penyebaran wabah virus Corona di luar wilayah Asia.

"Berkurangnya harapan bahwa wabah virus dapat tertahan di China mendorong investor kembali panik, sehingga memicu kekhawatiran," kata Ibrahim saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (28/2).

Sebelumnya, diketahui virus corona telah menyebar ke wilayah di luar China dan Asia. Hal tersebut ditunjukkan oleh lonjakan jumlah kasus di negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Italia, Iran, dan AS.

[Gambas:Video CNN]

Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa virus corona memiliki potensi untuk menjadi pandemi dan berada pada tahap yang menentukan pada hari Kamis (27/2) lalu.

Menurut Ibrahim, dampak melambatnya ekonomi global akibat epidemi virus korona yang terus menyebar berpotensi merembet ke perlambatan ekonomi Indonesia. Ia juga menyebut Bank Indonesia (BI) telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020 kemungkinan berada di bawah 5 persen akibat dampak virus corona. Padahal, sebelumnya BI memprediksi proyeksi pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 hingga 5,4 persen.

Ibrahim juga mengungkap intervensi BI di pasar valas dan obligasi di perdagangan DNDF pada hari ini tidak berhasil menguatkan nilai rupiah.

"Intervensi yang dilakukan oleh BI tidak bisa membawa mata uang garuda menguat," ujarnya.

Lebih lanjut, Ibrahim memprediksi rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp14.170 hingga Rp14.350 pada perdagangan pekan depan.

(ara/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK