Mengutip CNN.com, Jumat (6/3), penjualan minuman dan makanan turun bukan cuma karena warga setempat memilih berdiam diri di rumah. Tetapi juga karena banyak toko atau gerai yang ditutup sementara.
Selain itu, CEO Starbucks Kevin Johnson dan CFO Patrick Grismer, dalam keterangan tertulis kepada para pemangku kepentingan, menyebut beberapa gerai Starbucks di China juga mengurangi jam operasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, gerai-gerai yang masih buka telah mengurangi jam kerja dan membatasi tempat duduk untuk menjaga jarak antara satu pengunjung dengan yang lain. Beberapa gerai bahkan hanya melayani pesanan antar.
Manajemen Starbucks di China mengambil langkah untuk membantu mengurangi penyebaran virus, yang telah mencatat kasus orang terinfeksi lebih dari 95 ribu dan merenggut nyawa 3.300 orang di seluruh dunia.
"Dampak bisnis hanya sementara. Kami yakin, dengan kekuatan merek Starbucks, keuntungan jangka panjang, dan potensi pertumbuhan bisnis di China. Apalagi, ada tanda-tanda pemulihan yang menggembirakan di China," tutur Johnson dan Grismer.
Sementara itu, di Amerika Utara, Starbucks mengambil langkah penyebaran virus corona dengan menghentikan penggunaan mug atau gelas pribadi pengunjung. Manajemen setempat juga meningkatkan kegiatan bersih-bersih di gerai-gerai di Amerika Utara.
[Gambas:Video CNN]
(bir/age)