"Dari impor (yang paling terpukul) barang elektronik. Dari total impor China hampir 50 persen dari Wuhan," jelasnya.
Menyusul perumusan stimulus ekonomi jilid II, Rosan menyebut Kadin tengah mendiskusikan bentuk-bentuk relaksasi yang diharapkan. Namun, dia mengatakan relaksasi yang dibutuhkan tak akan jauh-jauh dari kemudahan perizinan dan insentif fiskal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun bendahara negara tersebut belum dapat membagi kisi-kisi soal paket tersebut. Ia juga enggan memberikan proyeksi kesiapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 dalam memenuhi kebutuhan anggaran paket stimulus ekonomi jilid kedua yang digadang-gadang mencapai Rp10,3 triliun.
Di kesempatan yang sama, ia memprediksikan Purchasing Managers Indeks (PMI) yang kini melampaui di level 50 untuk Januari-Februari akan melandai. Sebab, katanya, dari segi pasokan, permintaan, dan produksi akan terpengaruh oleh anjloknya PMI Negeri Tirai Bambu.
"Terhambatnya supply demand dari China, otomatis efeknya besar ke kita (Indonesia). Impor kita 80 persenan, bahan baku dan barang penolong, ini yang harus diantisipasi," katanya.
Kepala negara memerintahkan penyederhanaan dan relaksasi terkait prosedur masuknya pasokan bahan baku, ia juga meminta para jajaran kementerian untuk mengoptimalkan setiap peluang yang ada.
"Artinya suplai bahan baku harus ada. Kalau ada tambahan pesanan, kemudian suplai bahan baku enggak ada, percuma. Mau ngerjain apa?" ungkapnya.
[Gambas:Video CNN]
(wel/age)