Yani (40), salah satu penjual rempah-rempah di Pasar Mencos, Karet, Jakarta Selatan menuturkan masyarakat berbondong-bondong mencari rempah-rempah setelah pemerintah mengonfirmasi dua pasien positif virus corona di Indonesia.
"Gara-gara virus corona, semuanya beli karena memang badannya jadi hangat. Saya juga minum ini, kunyit pakai temulawak, jahe, terus pewanginya pakai daun cengkih," katanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (6/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan, jahe dibanderol dari Rp20 ribu-Rp25 ribu per kg menjadi Rp40 ribu kg, sereh Rp10 ribu per kg menjadi Rp20 ribu per kg. Sementara, harga kunyit stabil di kisaran Rp15 ribu per kg.
Lonjakan harga terjadi pada komoditas bawang bombai dari Rp20 ribu-Rp30 ribu per kg menjadi Rp180 ribu per kg. Yani bilang terbangnya harga bawang bombai disebabkan kelangkaan pasokan di pasar. Namun, untuk komoditas rempah-rempah lainnya, tidak terjadi kekurangan pasokan di pasar.
"Kalau sebelum kejadian biasanya habis 3 kg-4 kg untuk masing-masing, habis virus corona 5 kg habis. Yang jelas jadi sering nambah stok," katanya.
Kenaikan permintaan ini juga diikuti dengan lonjakan harga. Temulawak sebelumnya dipatok Rp30 per kg naik menjadi Rp50 per kg dari pasar induk. Lalu, harga jahe merah dari Rp65-Rp70 per kg menjadi Rp100 per kg di pasar induk.
Iwan bilang komoditas temulawak dan jahe merah mengalami kelangkaan. Bahkan, supplier nya di Yogjakarta pun mengaku mengalami kelangkaan stok. "Jadi laris habis corona itu. Sebetulnya kan minum ini untuk pencegahan daripada kena," terang dia.
Ia pun mengaku penjualannya bisa naik hingga dua kali lipat, meskipun enggan menyebut nominalnya. Iwan mengatakan pembelinya datang dari berbagai kalangan, padahal biasanya penjual jamu yang kerap berkunjung di tokonya.
[Gambas:Video CNN]
(ulf/bir)