Imbas Corona, Investasi Lithium di Morowali Terancam Mundur

CNN Indonesia | Senin, 09/03/2020 00:20 WIB
Rencana investasi bahan baku baterai lithium di Morowali Industrial Park (IMIP), Sulteng, disebut terancam mundur akibat wabah Virus Corona. Ilustrasi industri. (morgueFile/click)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut rencana investasi bahan baku baterai lithium di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, terancam mundur akibat Virus Corona (Covid-19).

"Walaupun sekarang di Tiongkok sudah mulai menurun kita masih mengamati dengan cermat walaupun tentu ada dampaknya kepada investasi yang ada paling tidak di Indonesia Timur sekarang yang sedang jalan jadi slow down," kata dia, di Kawasan SCBD, Jakarta, Minggu (8/3).

Luhut mengatakan pemerintah sedang membuat perhitungan saat kondisi wabah di China mulai menurun. Pemerintah Indonesia, kata dia, pun selalu berkomunikasi dengan investor.


"Jadi, kita kan harus menimbang buruk atau untung-ruginya dari itu semua sehingga dari waktu ke waktu kita evaluasi dengan cermat, Menkes dalam hal ini. Kami sebagai yang menerima investasi tentu berkomunikasi dengan cermat dengan mereka," ujar dia.

Terkait proyeknya sendiri, Luhut mengungkapkan pembangunan konstruksi pabrik bahan baku baterai lithium sudah berjalan. Hanya saja, wabah itu membuat mengerjaannya melambat.

"Misalnya di sana itu kan kita mau lithium baterai, mundur ke belakangnya kan buat elemen-elemen baterai, katoda, itu kan harus dibuat dan kebetulan semua ini izinnya sudah keluar, dan mulai construction, terus sekarang terpaksa slow down," ucap dia.

Terlepas dari itu, Luhut menuturkan hingga saat ini tidak ada investor yang membatalkan investasinya di Indonesia.

"Its okay, enggak masalah. Yang saya suka, senang, belum ada minat orang batalkan investasinya," ujarnya lagi.

[Gambas:Video CNN]
Ia sebelumnya mengklaim pabrik bahan baku baterai lithium di IMIP akan menjadi pabrik bahan baku baterai terbesar di dunia. Pasalnya, seluruh proses akan terintegrasi di kawasan tersebut.

Investor asing yang menanamkan investasinya pada pendirian pabrik ini antara lain, perusahaan baterai terbesar China CATL, perusahaan daur ulang baterai GEM, Tsingshin Group, dan perusahaan Jepang Hanwa.

Investasi awal disebut Luhut mencapai US$720 juta. Namun, investor telah berkomitmen untuk menanamkan investasinya hingga US$4,2 miliar selama lima tahun ke depan.

(ryn/DAL)