Ketua Harian PHRI Ashok Kumar mengungkapkan hotel-hotel di pesisir pantai Banten yang biasanya meraup pemesanan di atas 50 persen, kini hanya meraup okupansi sebesar 20 persen. Bahkan, bisnis perhotelan di jantung kota Banten pun ikut rontok. Hotel yang rata-rata diisi 70 persen wisman kini harus puas dengan angka okupansi 20-30 persen.
"Karyawan sudah ada yang dicutikan dan diliburkan, okupansi sudah rontok. Walau (wisman) sudah bayar uang muka tapi tetap dibatalkan," jelasnya kepada CNNIndonesia.com pada Senin (16/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ashok berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret yang dapat membantu meringankan beban para pengusaha perhotelan. Sebab, jika tidak, dia bilang imbasnya akan mengarah ke pengurangan karyawan.
Sebelumnya, hal serupa juga menghantam pengusaha hotel dan restoran di Kalimantan Barat. Tingkat okupansi hotel di wilayah Borneo diklaim merosot setidaknya 20 persen, termasuk bisnis restoran.
[Gambas:Video CNN]
Menurut Ketua PHRI (PHRI) Kalbar Yuliardi Qamal, anggotanya mengeluh bisnis hotel dan restoran sepi sejak dua bulan terakhir. Sejumlah acara juga dibatalkan.
"Kami paham kondisi saat ini terjadi di seluruh dunia. Karenanya, kami mendukung langkah pemerintah membatasi masuknya orang dari luar negeri, khususnya negara-negara yang terdampak virus corona," ujarnya pekan lalu.
Pemerintah sebenarnya sudah menyiapkan bantalan bagi industri perhotelan di tengah pandemi covid-19. Salah satunya, stimulus pembebasan pajak hotel dan restoran dengan anggaran mencapai Rp3,3 triliun untuk enam bulan ke depan.