Rosan mengatakan selain sektor manufaktur, pariwisata dan UMKM juga mendapatkan tekanan dari wabah tersebut. Untuk pariwisata, tekanan bisa dilihat dari penurunan tingkat hunian hotel (occupancy rate) yang turun 20-30 persen akibat virus corona.
"Pemerintah sudah mengeluarkan stimulus dan relaksasi, tentunya harapan kita itu pasti akan berdampak, tetapi kami ingin mengusulkan lagi ke pemerintah (relaksasi) itu bisa diperluas," kata Rosan seperti dikutip dari Antara, Rabu (18/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari total infeksi tersebut, 7 orang meninggal dan 9 orang lainnya dinyatakan sembuh. Tak hanya orang, virus juga sudah 'menginfeksi' ekonomi dalam negeri.
Di sektor pariwisata, virus telah mengakibatkan kunjungan turis China di Nusa Penid, Bali anjlok 100 persen pada Januari lalu. Untuk mengatasi dampak tersebut, pemerintah sudah mengeluarkan dua stimulus.
[Gambas:Video CNN]
Salah satu stimulus, berbentuk relaksasi Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh Pasal 21), PPh Pasal 22 Impor, PPh Pasal 25, dan relaksasi restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Stimulus yang berlaku untuk industri manufaktur tersebut berlaku selama enam bulan.
Rosan menyambut positif kebijakan tersebut."Kami ingin ini tidak hanya di bidang manufaktur saja tetapi di semua industri diperluas, pariwisata misalnya, yang 'occupancy ratenya' sekarang sudah turun 20 sampai 30 persen. Jadi semua di industri itu diperluas relaksasinya, bukan manufaktur saja," kata Rosan.
(antara/agt)