Pandemi Corona, Laju Ekonomi Global Diproyeksi 1,9 Persen

CNN Indonesia | Kamis, 19/03/2020 20:00 WIB
Pandemi Corona, Laju Ekonomi Global Diproyeksi 1,9 Persen Wabah virus corona membuat sejumlah lembaga internasional memangkas proyeksi pertumbuhan ekonmoi global. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Wabah virus corona (covid-19) menyeret proyeksi laju pertumbuhan ekonomi global pada 2020. Baru-baru ini, The Economist Intelligence Unit (EIU) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 2,3 persen menjadi 1,9 persen.

"Kami memprediksi pertumbuhan global sebesar 1,9 persen tahun ini, paling lambat sejak krisis keuangan global. Efek negatif pada pertumbuhan akan datang melalui saluran permintaan dan pasokan," ungkap analis EIU yang dikutip dari riset Kamis (5/3).

Berdasarkan analisis EUI, kebijakan karantina, penyakit, dan sentimen negatif konsumen dan bisnis saat ini akan menekan jumlah permintaan pasar dunia. Pada saat yang sama, penutupan beberapa pabrik di beberapa negara akan mengganggu rantai pasokan dan menciptakan kemacetan pasokan.


Untuk perekonomian Amerika Serikat (AS), analis menilai kecenderungan AS yang kurang bergantung pada perdagangan eksternal dibandingkan beberapa negara lain dapat membantu menghambat dampak perlambatan permintaan global.

Meski demikian, ancaman besar tetap berlaku jika virus menyebar dengan cepat di AS. Apabila hal tersebut terjadi, pendapatan perusahaan domestik bakal terbebani yang berdampak negatif pada penciptaan lapangan kerja dan mengerek angka pengangguran.

"Ini akan memukul pengeluaran konsumen AS, satu-satunya sumber pertumbuhan yang kuat di ekonomi AS, dan menekan pasar keuangan, meningkatkan risiko kehancuran yang akan dengan cepat menyebar ke pasar keuangan lain di seluruh dunia," ujar analis EIU.

Tak hanya AS, prospek pertumbuhan ekonomi Eropa juga diprediksi semakin suram karena penyebaran virus corona yang meningkat pesat di negara-negara besar seperti Italia, Spanyol, Prancis dan Jerman.

Analis menilai langkah-langkah pengendalian yang diambil sebagai tanggapan peningkatan kasus di negara-negara besar tersebut akan menghambat pertumbuhan perekonomian di Eropa secara keseluruhan.

"Kami memperkirakan ketidakpastian ekonomi di Eropa akan bertahan hingga Juni, meredam sentimen bisnis, konsumsi barang-barang non-esensial rumah tangga, dan aktivitas perjalanan dan pariwisata. Langkah-langkah karantina dan upaya menjauhkan publik akan meluas," ungkapnya.

Untuk Amerika Latin dan Karibia, dampak virus corona akan bervariasi sesuai dengan ketergantungan suatu negara pada perdagangan dan komoditas. Bagi pengekspor komoditas besar Amerika Selatan, kejutan dari berkurangnya permintaan global, terutama dari mitra dagang utama seperti Cina dan Uni Eropa, disertai lemahnya harga minyak, tembaga, bijih besi dan kedelai, akan berdampak besar.

Selain itu, EIU memperkirakan dampak wabah covid-19 akan melanda Timur Tengah dan Afrika melalui efek redamnya pasar minyak dan komoditas. China yang menyumbang sekitar sepertiga dari permintaan konsumsi minyak baru, membuat proyeksi perlambatan ekonomi di China. Ujung-ujungnya harga minyak terus jatuh.

"Produksi dan harga minyak yang lebih rendah juga akan membebani kinerja ekonomi di negara-negara pengekspor minyak dan wilayah yang lebih luas," tuturnya.

Sementara itu, dibandingkan wilayah lain di dunia, analis menilai perekonomian negara di kawasan Asia berpotensi menjadi yang paling terpukul, terutama China.

"Kami percaya bahwa pertumbuhan PDB riil China hanya akan mencapai 4,5 persen tahun ini dari perkiraan 6,1 persen pada 2019," tutur analis.

Pertumbuhan negara di luar China akan semakin tertahan, terutama karena permintaan impor China yang turun dan tindakan pengendalian virus domestik.

Berdasarkan analisa EIU, terdapat dua saluran utama yang menjadi sumber perlambatan ekonomi di Asia. Pertama, pelemahan arus masuk pariwisata, terutama negara-negara yang menarik sebagian besar wisatawan dari China, seperti Hong Kong, Taiwan, Thailand, Korea Selatan, Singapura, Malaysia dan Sri Lanka.

Kedua, gangguan pada rantai pasokan industri yang sebagian besar bergantung pada manufaktur China. Negara yang bakal mengalami dampak terbesar untuk faktor ini adalah Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, Filipina dan Thailand.

Sementara itu, Morgan Stanley dalam riset "Shape of U" memperkirakan resesi global terjadi pada tahun ini dipicu oleh penyebaran virus corona di kawasan Asia. Menurut Morgan Stanley, perekonomian Asia selain Jepang akan melambat secara bergelombang.

Lalu, ekonomi China perlahan pulih pada kuartal I 2020 berkat langkah-langkah pengendalian yang ketat dari pemerintah serta upaya baru-baru ini untuk melanjutkan kegiatan ekonomi setelah penyebaran virus corona.

Sementara, perekonomian negara Asia lainnya kecuali Jepang akan melambat lebih jauh di kuartal II 2020, terbebani oleh permintaan agregat global yang semakin lemah. Dengan demikian, pertumbuhan perekonomian Asia kecuali Jepang akan membentuk grafik berbentuk huruf U.

[Gambas:Video CNN]

Berdasarkan catatan Morgan Stanley, pertumbuhan ekonomi negara Asia selain Jepang sudah berada di level terendah pascakrisis keuangan global yakni di level 5,1 persen secara tahunan pada kuartal IV 2019.

Bank asal Amerika ini memprediksi angka tersebut akan terus melambat sebesar 1,3 persen secara tahunan pada kurtal pertama 2020, berlanjut menjadi tumbuh sebesar 0,9 persen secara tahunan di paruh pertama 2020, dan akan pulih menjadi 6,3 persen secara tahunan di paruh kedua 2020.

Sebelumnya, Moody's, lembaga pemeringkat internasional memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara-negara G20, termasuk Indonesia bakal tertekan karena wabah virus corona.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi cuma 4,8 persen dari proyeksi awal 5,0 persen. Sedangkan ekonomi China rontok dari 6,1 persen menjadi 4,8 persen. Begitu pula dengan Jepang dari 0,7 persen menjadi stagnan nol persen.

Secara keseluruhan, Moody's merevisi pertumbuhan ekonomi negara-negara G20 menjadi 2,1 persen atau 0,5 persen lebih rendah dari proyeksi awal, yakni 2,6 persen. Dengan kontribusi terbesar setelah negara-negara di atas, yaitu Amerika Serikat, Eropa, Australia, Korea Selatan, dan China.



(ara/sfr)