Sedikitnya ada enam skenario bantuan kepada pelaku UMK yang bisa dilakukan. Pertama, mengurangi potongan biaya yang dibayarkan UMK ke e-commerce. Saat ini, penjual yang bekerja sama dengan e-commerce harus menyetorkan 20 persen dari total penjualan.
"Aturan ini harus diubah untuk sementara. Persentase potongan perlu dibuat berjenjang dengan mempertimbangkan besarnya omzet atau skala UMK," tulis SMERU Research, dikutip dari akun Twitter resminya, Selasa (24/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, pemerintah dapat memperluas akses pinjaman bagi UMK. Selain itu, pemerintah dapat memperpanjang batas waktu pembayaran pinjaman hingga situasi stabil guna mengurangi beban pembayaran pinjaman bagi UMK.
"Penurunan harga bahan bakar minyak juga diperlukan," tulisnya. Keempat, menjamin ketersediaan input produksi seperti bahan baku, sehingga kegiatan operasional UMK tidak terganggu.
"Pembayaran yang tepat waktu dapat mempercepat perputaran modal," tulisnya. Menurutnya, pemerintah membutuhkan basis data tunggal (BDT) UMK yang diintegrasikan dengan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Dengan demikian, bantuan yang diberikan tepat menyasar UMK yang dikelola warga miskin. Selanjutnya, data ini dapat menjadi sumber data baik bagi program rutin maupun program khusus saat terjadi guncangan ekonomi.
"Aturan ini bisa dimulai dari lingkup pemerintah dan BUMN. Dalam jangka panjang, perlu dirancang regulasi seperti ini yang menyasar dunia usaha secara luas," tulisnya.
[Gambas:Video CNN]
(ulf/age)