Keluhan Pedagang Pasar Kehilangan Omzet karena Virus Corona

CNN Indonesia | Selasa, 24/03/2020 08:11 WIB
Para pedagang pasar mulai mengeluh karena omzet mereka anjlok sejak virus corona merebak di Indonesia. Para pedagang pasar mulai mengeluh karena omzet mereka anjlok sejak virus corona merebak di Indonesia. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pedagang pasar menjadi salah satu pekerjaan yang terdampak oleh wabah virus corona. Rata-rata omzet harian para pedagang tersebut turun lebih dari 50 persen.

Salah satunya Andi, pedagang ikan di pasar daerah BSD, Tangerang Selatan. Dia mengaku penjualannya menurun dalam seminggu terakhir. Menurutnya, kedatangan pengunjung ke pasar juga semakin berkurang sejak diberlakukannya imbauan berdiam diri di rumah.

Andi mengatakan, pengunjung yang membeli ke tokonya sudah turun kurang lebih 50 persen dalam seminggu.


"Penjualan menurun. Pengunjung juga. Kurang lebih 50 persen lah dalam seminggu terakhir, biasanya yang datang 40 per hari, sekarang kira-kira 20-an orang saja," kata Andi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (23/3).

Tak hanya Andi, pedagang kue di wilayah pasar yang sama yakni Hera, mengaku penjualannya juga terdampak oleh wabah covid-19. Namun, menurut Hera dampak terhadap omzetnya tidak terlalu tinggi, lantaran masih banyak pelanggan yang memesan kue menggunakan ojek online.

"Penjualan turun sih, tapi kalau kami tidak terlalu terasa dibanding pedagang lain, karena masih banyak pesanan via online juga," ungkapnya.

Namun, sama seperti Andi, Hera mengaku penjualan offline atau secara langsung di pasar turun drastis dalam seminggu terakhir. Dia hanya menjual sekitar 8 boks kue dalam waktu seminggu. Penjualan tersebut menurun dari 15 boks kue terjual dalam satu pekan.

"Kalau penjualan secara langsung pastinya sangat terdampak, karena orang yang ke pasar juga sudah sangat berkurang. Biasanya saya jual bisa 15 dus kalau langsung, ini cuma 8 dus aja seminggu," tuturnya.

Berbeda dari kedua pedagang, Ameng, pemilik toko sembako di pasar yang sama mengaku penjualannya meningkat, terutama pada awal diberlakukannya imbauan menetap di rumah kepada masyarakat.

Ameng menyebut penjualannya terutama barang kebersihan seperti sabun dan shampoo serta obat-obatan laku keras di minggu-minggu pertama.

"Minggu awal itu laku keras, pada borong alat kesehatan, obat-obat, lalu alat kebersihan kayak shampoo, sabun, cairan pembersih itu laku sampai ludes," ucapnya.

Namun, ketika himbauan diam di rumah mulai berlaku, penjualannya mulai merosot. Ia khawatir, dirinya serta pedagang di pasar bisa terus merugi apabila imbauan tersebut terus berjalan.

"Ya agak khawatir sekarang, karena sudah kelihatan sekali mulai sepi yang datang ke pasar, takutnya rugi, apalagi virus ini juga kan gak tahu sampai kapan (berakhir)," ungkapnya.

Ameng mengaku kini pengelola pasar telah bekerja sama dengan kepolisian dan aparat setempat untuk membuat langkah antisipasi di pasar. Ia mengaku, kini di sudut-sudut pasar telah disediakan hand-sanitizer yang dapat digunakan oleh pedagang atau pun pengunjung yang memasuki pasar.

"Alhamdulillah, sudah ada langkah juga diambil pengelola sama aparat setempat. Sudah diberi hand sanitizer di pasar, lalu kalau ada pengunjung yang gak pakai masker biasanya ditegur aparat, lalu diimbau jaga jarak, begitu" pungkasnya.

Namun sayangnya, Ameng mengaku saat ini belum disediakan masker bagi para pengunjung pasar. Ia berharap pemerintah dapat membantu para pedagang dan masyarakat dengan menyediakan masker di pasar, sehingga dapat memberikan rasa aman kepada seluruh pengunjung pasar.

"Mudah-mudahan juga kalau ada masker, pengunjung juga nambah," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]


(ara/age)