ANALISIS

Geliat Mal dan Pasar yang 'Terpukul' Virus Corona

Agnes Savithri, CNN Indonesia | Jumat, 27/03/2020 12:47 WIB
Geliat Mal dan Pasar yang 'Terpukul' Virus Corona Pusat perbelanjaan menjadi sepi karena wabah virus corona. llustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bisnis pusat perbelanjaan tengah menghadapi imbas negatif dari penyebaran wabah virus corona. Imbauan menjaga jarak atau social distancing yang digaungkan oleh pemerintah membuat mal di kota-kota besar sepi pengunjung.

Berbagai mal mulai memberikan pengumuman penutupan sementara. Penutupan yang berkisar 10 hari tersebut tidak hanya terjadi di Jakarta, namun daerah lain seperti Bandung. Pengelola tidak mau ambil risiko penyebaran virus semakin masif.

Pengelola hanya mengizinkan tenant apotek dan supermarket untuk tetap buka dengan penyesuaian jam. Keputusan tersebut dilakukan agar masyarakat tetap bisa membeli kebutuhan sehari-hari dan obat-obatan.


Tidak hanya mal, pasar tradisional pun mulai terlihat sepi di beberapa kota. Pasar Tanah Abang, salah satu pasar teramai di Jakarta pun memutuskan untuk tutup sementara waktu.

Pasar Tanah Abang blok A, B dan F akan tutup dari mulai 27 Maret hingga 5 April mendatang. Sementara, blok G masih akan buka dan terbatas untuk pedagang yang berjualan kebutuhan pangan.

Berdasarkan data yang diberikan PD Pasar Jaya, perputaran tiga blok Pasar Tanah Abang sekitar Rp80 miliar hingga Rp100 miliar dengan total kios mencapai 10 ribu. Jika melihat estimasi pendapatan tersebut, dengan penutupan selama 10 hari, PD Pasar Jaya akan kehilangan kisaran Rp800 miliar hingga Rp1 triliun.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi mengungkapkan perputaran uang di pusat perbelanjaan pasti akan menurun signifikan karena pembatasan operasional di tengah wabah corona. Sebab, jasa kuliner dan sejumlah jasa lain masih mengandalkan pemasukan dari transaksi fisik.

Kondisi ini akan mengancam laju pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, lebih dari 50 persen perekonomian Indonesia ditopang oleh sektor konsumsi. Untungnya, saat ini, penggunaan platform digital sudah mulai merebak sehingga bisa menjadi bantalan yang baik.

"Walaupun mal tidak beroperasi, tetapi konsumen masih bisa menggunakan layanan pesan antar dan layanan itu masih bisa diandalkan hingga sekarang," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (27/3).

Kondisi tersebut, sambung Fithra, berbeda dengan era 1990-an di mana penggunaan layanan online belum masif. Kala itu, ekonomi bisa terjun bebas jika kebijakan jaga jarak dijalankan.

"Di tahun sekarang, kalau ada pembatasan sosial tidak akan sebesar dampaknya dari dulu, karena banyak yang sudah terhubung dengan online," jelasnya.

Di sisi lain, Fithra mengkhawatirkan orang-orang yang bekerja di mal, terutama mereka yang mendapatkan upah harian. Ketika mal tidak beroperasi, pekerja harian tidak akan mendapatkan upah. Ujung-ujungnya mereka akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

"Kalau dari sisi orang yang bisa berbelanja di mal, itu kalangan middle up (menengah ke atas). Ada pengurangan income tidak akan membuat mereka menjadi miskin. Berbeda dengan orang yang bekerja di mal sebagai pekerja harian. Ini yang harus diperhatikan," ujarnya.

Untuk itu, perlu ada skema untuk membantu penghidupan mereka selama wabah virus corona ini berlangsung. Pemerintah sendiri sudah menyiapkan beberapa skema untuk meringankan beban ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah.

Bentuk bantuan itu berupa penambahan saldo bantuan pangan non tunai dari 150 ribu per bulan menjadi Rp200 ribu per bulan hingga insentif senilai Rp1 juta per bulan selama empat bulan bagi korban PHK.

Data hilangnya perputaran uang selama penutupan operasional sejumlah mal sendiri belum terkumpul. Menurut Managing Director Nielsen Indonesia Agus Nurudin, data belum tersedia karena penutupan baru berjalan satu pekan dan belum semua melakukan hal yang sama.

Agus menilai imbauan diam di ruma membuat kebiasaan konsumen juga berubah. Konsekuensi dari imbauan tersebut adalah konsumen yang biasa belanja di mal akan berpindah online atau minimarket. Konsumen pun mengutamakan pembelian bahan makanan pokok dan rempah.

"Saat ini memang ada perpindahan kebutuhan dan kebiasaan. Minimarket, online dan pasar tradisional yang saat ini naik signifikan," ujarnya, Kamis (26/2).

Artinya, meski operasional pasar tutup, pedagang pasar tradisional memiliki opsi penjualan di platform online. Dengan demikian, para pedagang tersebut tetap dapat memperoleh penghasilan.

Di sisi lain, bisnis restoran akan terkena imbas negatif karena berkurangnya pengunjung. Opsi seperti merumahkan sementara atau pemotongan gaji tidak dapat dihindari karena tempat-tempat yang tidak beroperasi tersebut tidak memiliki pemasukan.

[Gambas:Video CNN]

Namun, Agus mengungkap saat ini sedang berlangsung negosiasi asosiasi pengelola mal dan tenant untuk mencari solusi bersama. Pasalnya, baik pengelola mal dan tenant pun sama-sama dirugikan dengan kejadian wabah corona.

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan belum dapat memastikan berapa banyak pusat perbelanjaan yang bakal ditutup selama beberapa waktu ke depan. Ia mengaku masih mengkaji seluruh data anggota dan menyiapkan langkah ke depan.

"Kami terus update datanya, dan juga kami lihat bergantung dari hari ini sampai ke depan bagaimana sih posisinya? Apa akan semakin banyak (penyebaran virus) atau bagaimana? Kami sibuk membicarakan bagaimana mengatasi situasi ini," imbuh dia.

(sfr)