Modal Asing Beri Tenaga Rupiah ke Rp16.430 per Dolar AS

CNN Indonesia | Jumat, 03/04/2020 16:32 WIB
Modal Asing Beri Tenaga Rupiah ke Rp16.430 per Dolar AS Nilai tukar rupiah menguat ke Rp16.430 pada perdagangan Jumat (3/4) sore. Ilustrasi. (ANTARA/RENO ESNIR).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp16.430 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Jumat(3/4) sore. Posisi tersebut menguat 0,39 persen dibandingkan perdagangan Kamis(2/4) sore di level Rp16.495 per dolar AS.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp16.464 per dolar AS atau terapresiasi dibandingkan posisi kemarin yakni Rp16.741 per dolar AS.

Sore ini, mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Mata uang Garuda berhasil menguat bersama peso Filipina sebesar 0,30 persen, rupee India naik 0,36 persen, ringgit Malaysia menguat 0,02 persen, dan baht Thailand menguat 0,02 persen.


Sebaliknya, yen Jepang melemah 0,44 persen, dolar Hong Kong melemah 0,03 persen, dolar Singapura melemah 0,28 persen, dolar Taiwan turun 0,13 persen, won Korea Selatan turun 0,16 persen, dan yuan China melemah 0,12 persen.

Sementara itu, mayoritas mata uang di negara maju tunduk di hadapan dolar AS. Tercatat poundsterling Inggris melemah 0,92 persen, dolar Australia melemah 0,82 persen, dolar Kanada turun 0,23 persen, dan franc Swiss melemah 0,32 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah ditopang aliran modal asing ke dalam negeri. Data Bank Indonesia (BI) menyebutkan investor asing terpantau net buy atau beli bersih di pasar keuangan domestik sebesar Rp3,28 triliun pada periode 30 Maret-2 April 2020.

Aliran modal ini didominasi pembelian Surat Berharga Negara (SBN) yakni Rp4,09 triliun. Sedangkan di pasar saham masih terjadi jual bersih atau net sell Rp820 miliar.

"Aliran modal masuk ini menandakan bahwa kepanikan investor akibat mewabahnya covid-19 yang semakin berkurang," jelasnya dalam riset yang diterima CNNIndonesia.com.

[Gambas:Video CNN]

Menurutnya, aliran modal ke SBN disebabkan rendahnya suku bunga di berbagai bank sentral, terutama AS, Eropa, dan Asia. Kondisi ini menjadi daya tarik tersendiri untuk pasar dalam negeri.

"Apalagi suku bunga masih relatif tinggi sehingga sangat wajar kalau pelaku pasar kembali yakin terhadap prospek pasar keuangan dan perekonomian," ucapnya.

(ulf/sfr)