ILO: 2,7 Miliar Pekerja di Dunia Terdampak Virus Corona

CNN Indonesia | Rabu, 08/04/2020 16:03 WIB
ILO: 2,7 Miliar Pekerja di Dunia Terdampak Virus Corona ILO menyebut 2,7 miliar pekerja di dunia terpengaruh pandemi corona, baik melalui pengurangan jam kerja, cuti tanpa gaji, maupun PHK. Ilustrasi. (AP/Jae C. Hong).
Jakarta, CNN Indonesia -- Organisasi Buruh Dunia (ILO) menyebut penyebaran virus corona mempengaruhi 2,7 miliar pekerja di dunia atau sekitar 81 persen tenaga kerja. Pengaruhnya berbagai macam, mulai dari pengurangan jam kerja, dirumahkan, cuti tanpa gaji, hingga PHK (pemutusan hubungan kerja).

Mengutip laporan ILO yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (8/4), pelaku usaha di banyak sektor terancam rugi besar, terutama perusahaan-perusahaan skala kecil. Imbasnya, jutaan pekerja berpotensi kekurangan penghasilan, bahkan kehilangan.

ILO memperkirakan jam kerja menurun hingga 6,7 persen pada kuartal kedua dialami oleh lebih dari 195 juta pekerja penuh waktu yang biasanya bekerja selama 48 jam tiap pekan. Misalnya, terjadi di negara kategori lower middle income, seperti Indonesia.


Kemudian, di Arab Saudi, jam kerja diperkirakan turun 8,1 persen dan negara-negara di Benua Afrika bakal menurunkan jam kerja hingga 4,9 persen.

Kondisi tersebut akan sangat bergantung dari perkembangan pandemi covid-19 dan langkah-langkah yang diambil setiap negara dalam mengurangi dampaknya. Namun, dapat dipastikan jam kerja berkurang hanya sampai akhir tahun ini.

"Karena alasan ini, kami akan terus memantau situasi dan secara teratur memperbarui estimasi jam kerja yang hilang dan pekerja yang berpotensi kehilangan pekerjaan," tulis ILO dalam laporannya.

Lebih lanjut laporan ILO menyebutkan sebagian besar pekerja yang terancam kehilangan pekerjaan dan penurunan jam kerja terjadi di sektor-sektor yang paling terpukul. Jumlahnya, diprediksi mencapai 1,25 miliar pekerja, yang mewakili hampir 38 persen dari total pekerja di dunia.

ILO memaparkan kurang lebih 81 persen tenaga kerja global tinggal di negara-negara yang memberlakukan kebijakan lockdown atau karantina wilayah. Tenaga kerja tersebut mewakili 87 persen tenaga kerja di negara-negara berpenghasilan menengah ke atas.

Jumlah itu juga merepresentasikan 70 persen dari tenaga kerja di negara-negara berpenghasilan tinggi. Kondisi tersebut tidak lepas dari pembatasan kegiatan ekonomi di seluruh sektor pada banyak negara, sehingga menekan pendapatan perusahaan.

"Pengurangan tajam dan tidak terduga dari kegiatan ekonomi mengakibatkan penurunan drastis di sektor lapangan kerja, baik dalam jumlah pekerjaan dan jam kerja agregat," lapor ILO.

Menurut ILO, krisis ini merupakan yang paling parah sejak perang dunia kedua. Pasalnya, kasus kehilangan lapangan kerja meningkat pesat di seluruh dunia.

[Gambas:Video CNN]

4 Sektor Terdampak Parah


ILO juga memetakan dampak penyebaran virus corona kepada tenaga kerja dari setiap sektor. Terdapat empat sektor yang paling terpukul berdasarkan data ILO, yakni sektor perdagangan ritel dan grosir, manufaktur, real estate, sektor transportasi dan restoran.

Sektor-sektor tersebut merupakan sektor padat karya dan mempekerjakan jutaan pekerja dengan upah dan keterampilan rendah, terutama sektor transportasi, restoran, dan perdagangan ritel.

Tercatat kurang lebih 1,25 miliar pekerja di seluruh dunia bekerja di sektor tersebut atau mewakili hampir 38 persen dari total tenaga kerja global.

"Bergantung pada konteks negara, para pekerja ini menghadapi pengurangan jam kerja yang drastis, pemotongan upah, hingga PHK," jelas ILO.

Lebih rinci, sektor perdagangan ritel dan grosir mempekerjakan kurang lebih 482 juta orang di seluruh dunia. Lalu, sektor manufaktur 463 juta orang, dan sektor transportasi dan restoran sebanyak 144 juta.


Nasib Pekerja Informal


Dampak negatif covid-19 juga melanda pekerja sektor informal. ILO mencatat kurang lebih 2 miliar orang bekerja di sektor informal dan kebanyakan dari mereka berada di negara berkembang.

Meski memainkan peran ekonomi utama, pekerja informal ini tidak memiliki perlindungan dasar yang biasanya dimiliki pekerjaan formal, salah satunya perlindungan sosial.

Pekerja informal yang terdampak, seperti pekerja daur ulang sampah, pedagang kaki lima, pekerja konstruksi, pekerja transportasi dan sebagainya. Kondisi pekerja informal diperburuk dengan kebijakan lockdown yang diambil pemerintah negaranya.

Di India, misalnya, hampir 90 persen orang bekerja di sektor informal. ILO mencatat 400 juta pekerja di sektor informal berisiko jatuh dalam kemiskinan akibat pandemi di India. (ulf/bir)