Neraca Dagang Surplus US$743 Juta pada Maret 2020

CNN Indonesia | Rabu, 15/04/2020 11:55 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (25/6/2019).  Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2019 mengalami surplus sebesar 210 juta dolar AS dengan nilai ekspor mencapai 14,74 miliar dolar AS, sementara nilai impor mencapai 14,53 miliar dolar AS. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc. BPS mencatat neraca perdagangan surplus US$743 juta pada Maret 2020. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$743 juta secara bulanan pada Maret 2020 di tengah wabah virus corona atau covid-19. Posisi ini lebih rendah dari Februari 2020 yang surplus US$2,34 miliar.

Jika diakumulasi, neraca perdagangan pada Januari-Maret 2020 tercatat surplus sebesar US$2,62 miliar. Posisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang defisit sebesar US$62,8 juta.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan surplus terjadi karena nilai ekspor mencapai US$14,09 miliar atau tumbuh 0,23 persen dari US$14,06 miliar pada Februari 2020. Sementara nilai impor hanya mencapai US$13,35 miliar atau naik 15,6 persen dari US$11,55 miliar pada bulan sebelumnya.


"Posisi ini lebih baik dibandingkan dengan neraca dagang sebelumnya meski situasi sedang tidak pasti," ungkap Suhariyanto melalui video conference, Rabu (15/4).

Ia merinci kinerja ekspor ditopang oleh ekspor non minyak dan gas (migas) sebesar US$13,42 miliar atau naik 1,24 persen dari sebelumnya US$13,26 miliar pada Februari 2020. Sementara ekspor migas tercatat turun 16,29 persen dari US$800 juta menjadi US$670 juta.

Peningkatan ekspor nonmigas terjadi karena ekspor industri pertanian naik 6,1 persen menjadi US$320 juta secara bulanan. Sementara, kalau dilihat secara tahunan tercatat meningkat 17,82 persen.

"Sektor pertanian naik di antaranya untuk komoditas tanaman obat, rempah-rempah, dan buah-buahan," ujarnya.

Kemudian, nilai ekspor pertambangan naik 9,23 persen secara bulanan menjadi US$1,98 miliar. Namun, ekspor industri pengolahan turun 0,2 persen menjadi US$11,12 miliar.


Secara kumulatif, kinerja ekspor non migas masih menopang sekitar 94,14 persen dari total ekspor Indonesia pada bulan lalu. "Dari sisi HS, ada peningkatan ekspor masker," imbuhnya.

Jika ditotal, ekspor Januari-Maret 2020 sebesar US$41,79 miliar. Kinerja ini meningkat 2,91 persen bila dibandingkan Januari-Maret 2019 sebesar US$40,61 miliar.

Dari sisi impor, impor migas sebesar US$11,74 miliar atau naik 19,83 persen dari US$9,8 miliar. Sementara impor nonmigas senilai US$1,61 miliar atau turun 8,07 persen dari US$1,75 miliar. Kalau ditotal, nilai impor pada Maret 2020 naik 15,6 persen menjadi US$13,35 miliar.

Penurunan impor nonmigas berasal dari barang modal sebesar 1,5 persen menjadi US$1,8 miliar. Sementara, impor barang baku/penolong naik 16,34 persen menjadi US$10,28 miliar, dan konsumsi naik 43,8 persen menjadi US$1,27 miliar. Secara struktur, impor didominasi oleh barang baku/penolong mencapai 77,01 persen dari total impor.

Secara kumulatif, kinerja impor Januari-Maret 2020 sebesar US$39,17 miliar atau terkoreksi 3,69 persen. Khusus impor nonmigas, turun 5,8 persen dari US$35,91 miliar menjadi US$33,83 miliar.

[Gambas:Video CNN]

(aud/sfr)