BI Imbau Eksportir Konversi Devisa ke Rupiah di Tengah Corona

CNN Indonesia | Kamis, 02/04/2020 17:26 WIB
BI Imbau Eksportir Konversi Devisa ke Rupiah di Tengah Corona BI mengimbau eksportir mengonversi devisa hasil ekspor ke rupiah di tengah wabah corona. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) mengimbau eksportir untuk mengonversi Devisa Hasil Ekspor (DHE) dalam bentuk valuta asing (valas) ke rupiah. Hal ini dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah wabah virus corona.

Gubernur BI Perry Warjiyo menilai pelaku usaha tidak perlu khawatir untuk mengonversi DHE menjadi rupiah lantaran bank sentral telah memberikan fasilitas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) atau transaksi jual-beli valuta asing dengan kontrak jangka waktu tertentu yang terjadi di pasar valas domestik.

"Kami sudah perbanyak DNDF ini bisa dilakukan untuk hedging atau lindung nilai sehingga tidak perlu khawatir jual dolar sekarang, karena dengan DNDF ini bisa melindungi risiko nilai tukar," ujar Perry melalui video conference, Kamis (2/4).


Hingga kini, Perry mengaku belum akan mewajibkan eksportir mengonversi DHE ke rupiah di tengah tekanan ekonomi akibat virus corona. Bank sentral juga  tidak akan melakukan kontrol devisa terutama kepada investor asing.

Perry mengatakan pengaturan pengelolaan lalu lintas devisa hanya ditujukan kepada penduduk Indonesia. Ini sesuai dengan amanat Perppu Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19.

"Kami di BI itu belum ada rencana pada saat ini untuk wajibkan eksportir konversi dolarnya ke rupiah," kata Perry.

Ia menjelaskan bank sentral memberikan kebebasan lalu lintas DHE bagi investor asing karena Indonesia masih membutuhkan investasi asing dalam bentuk portofolio.

Ia tidak menampik untuk memulihkan ekonomi dalam tekanan seperti ini, Indonesia membutuhkan tabungan dalam negeri. Namun demikian, ia menyatakan guna mendorong investasi tidak semuanya bisa dibiayai dari tabungan dalam negeri alias masih membutuhkan investasi asing.

[Gambas:Video CNN]

"Dalam terminologi ekonomi kami masih menghadapi kesenjangan tabungan dan investasi atau saving investment gap. Di sinilah investasi asing diperlukan," ujarnya.

Dalam catatan bank sentral, lebih dari 80 persen eksportir telah memasukkan DHE ke dalam negeri. Namun demikian, DHE yang masuk itu mayoritas masih dalam bentuk valas.

Sebagai informasi, pada Kamis (2/4), rupiah melemah 0,27 persen ke Rp16.495 per dolar AS. Kurs rupiah merosot 18,96 persen sejak awal tahun.

(ulf/sfr)