"Kalau kami lihat, memang konsumsi rumah tangga melambat cukup dalam. Karena porsi dari konsumsi rumah tangga terhadap perekonomian sangat besar, tentu akan sangat mengerek ke bawah (pertumbuhan ekonomi)," tutur Kepala BPS Suhariyanto, Selasa (5/5).
Secara porsi, kontribusi konsumsi rumah tangga masih mendominasi, yakni sebanyak 58,14 persen. Porsi ini meningkat dibandingkan kuartal I 2019 lalu yang hanya 56,83 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, komponen restoran dan hotel hanya tumbuh 2,39 persen dari sebelumnya 5,64 persen.
"Ini bisa dipahami, karena ada PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), imbauan untuk mengurangi aktivitas di luar dan stay at home," jelas Suhariyanto.
Fenomena lain yang terkait konsumsi rumah tangga, yaitu pertama, penjualan eceran terkontraksi, terutama pada penjualan sandang, bahan bakar kendaraan, peralatan informasi, dan telekomunikasi, serta barang budaya dan rekreasi.
Kedua, penjualan wholesale mobil penumpang terkontraksi 4,51 persen dan penjualan sepeda motor susut 17,25 persen.
Ketiga, pengeluaran untuk transportasi merosot, Hal ini terlihat dari penurunan jumlah penumpang angkutan kereta api dan udara. Keempat, volume penjualan listrik PLN ke rumah tangga meningkat.
[Gambas:Video CNN]
Impor Anjlok
Selain konsumsi rumah tangga, kontribusi kedua terbesar yakni dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 31,91 persen. Namun, porsinya menyusut dari 32,15 persen pada kuartal I 2019 menjadi hanya 31,91 persen.
Maklumlah, pertumbuhannya tersisa 1,70 persen pada kuartal I 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni 5,03 persen.
Kemudian, konsumsi pemerintah dengan kontribusi sebesar 6,50 persen. BPS merekam konsumsi pemerintah melambat, yaitu dari 5,22 persen pada kuartal I 2019 menjadi 3,74 persen pada kuartal I 2020.
Suhariyanto menuturkan realisasi belanja pemerintah ditopang oleh belanja bantuan sosial dan belanja pegawai, dengan catatan pertumbuhan belanja pegawai terjadi alamiah karena kenaikan pangkat dan golongan.
Lalu, konsumsi lembaga non profit rumah tangga (LNPRT) yang memiliki andil 1,28 persen dengan pertumbuhan 10,62 persen. Kuartal I 2020, LNPRT tercatat kontraksi 4,91 persen atau lebih baik dibandingkan sebelumnya minus 16,96 persen.
Terakhir, yang tidak kalah penting, impor menggerogoti pertumbuhan ekonomi 17,57 persen. Kinerja impor tercatat masih minus 2,19 persen . Pada periode yang sama tahun lalu, impor minus 7,47 persen. (ulf/bir)