Jokowi Soroti Harga Bawang Merah dan Gula Masih Mahal

CNN Indonesia | Rabu, 13/05/2020 10:51 WIB
Pedagang melayani pengunjung yang hendak membeli kebutuhan pokok di Toko Tani Indonesia Center (TTIC) dan Toko Tani Indonesia (TTI), Ragunan, Selasa, Jakarta (05/05/2020). Pasar tani yang menggelar barang kebutuhan pokok bagi warga tersebut melayani penjualan online dengan aplikasi dan offline. Hal tersebut sebagai upaya meningkatkan akses pangan bagi masyarakat untuk mendapatkan pangan strategis seperti, beras, gula pasir, daging sapi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, cabai, sayur, dan buah dengan harga di bawah harga pasar dengan harapan dapat menstabilkan harga ditingkat eceran. CNN Indonesia/Andry Novelino Menurut Presiden Jokowi, rata-rata harga bawang merah saat ini Rp51 ribu per kg, jauh di atas acuan pemerintah sebesar Rp32 ribu per kg. Ilustrasi bawang merah. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti harga bawang merah yang mahal di tengah pandemi virus corona. Ia menyebut rata-rata harga bawang merah nasional mencapai Rp51 ribu per kilogram (kg).

"Ada dua yang ingin saya soroti, salah satunya bawang merah yang rata-rata masih Rp51 ribu per kg," ucap Jokowi dalam video conference, Rabu (13/5).

Padahal, sambung dia, harga acuan bawang merah yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp32 ribu per kg. Artinya, ada selisih sekitar Rp19 ribu antara harga acuan dengan harga rata-rata bawang merah sekarang.


Selain bawang merah, Jokowi juga menyoroti harga gula pasir yang belum juga turun sejak beberapa bulan terakhir. Menurutnya, rata-rata harga gula saat ini sebesar Rp17 ribu per kg sampai Rp17.500 per kg.

"Ini masih saya kejar harga gula. Padahal, harga eceran tertinggi (HET) gula ada di Rp12.500 per kg," imbuhnya.

Oleh karena itu, ia meminta kepada seluruh jajarannya untuk mencari tahu di mana letak persoalan yang membuat harga bawang merah dan gula pasir jauh di atas harga acuan. Jokowi memerintahkan 'pembantunya' mengecek apakah ada masalah distribusi atau ada pihak yang mempermainkan harga pangan.

"Saya ingin ini dilihat masalahnya ada di mana, urusan distribusi atau memang stok kurang atau memang ada yang sengaja mempermainkan harga. Saya minta cek di lapangan," jelas Jokowi.

Dalam kesempata itu, Jokowi juga kembali menyinggung peringatan dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) terkait kelangkaan bahan pangan di tengah penyebaran virus corona. Karenanya, ia meminta jajarannya untuk memastikan ketersediaan stok pangan.

Apalagi, Jokowi mengakui ada penurunan daya beli masyarakat akhir-akhir ini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahan pangan deflasi sebesar 0,13 persen pada April 2020.

"Ini ada indikasi penurunan permintaan bahan pangan dan artinya daya beli masyarakat menurun," kata Jokowi.

Makanya, pemerintah berupaya menggenjot kembali daya beli masyarakat dengan pemberian bantuan sosial (bansos). Beberapa bantuan yang dimaksud, seperti bansos tunai kepada 9 juta keluarga dan bantuan langsung tunai (BLT) dana desa kepada 11 juta keluarga.

"Lalu, ada kartu sembako, program keluarga harapan, dan padat karya tunai. Kami harap ini bisa meningkatkan daya beli masyarakat," pungkas Jokowi.

[Gambas:Video CNN]

(aud/bir)