"2019 merupakan tahun yang cukup menantang dengan situasi industri yang cukup dinamis, sehingga hal tersebut berdampak pada tidak tercapainya target perusahaan pada 2019," kata Direktur Keuangan PT Angkasa Pura I (Persero) Andy S Bratamihardja dalam keterangan tertulis, seperti dilansir Antara, Jumat (22/5).
Ia mengatakan merebaknya pandemi covid-19 di Indonesia pada Maret 2020 turut berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hal ini yang membuat perubahan outlook perusahaan dari stabil menjadi negatif, walau masih berada pada peringkat tertinggi idAAA.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perubahan outlook dari stabil ke negatif disebabkan tidak tercapainya target trafik penumpang, pesawat, termasuk kargo pada 2019 yang berdampak pada tidak tercapainya target pendapatan pada 2019.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor eksternal, seperti kebijakan maskapai yang menaikkan harga tiket domestik dan mengurangi frekuensi penerbangan, kebijakan penghapusan allowance baggage, di beberapa maskapai, tertundanya rencana pengambilalihan empat bandara milik Kementerian Perhubungan dan pengoperasian tujuh ruas jalan tol Transjawa.
"Walaupun begitu, penyiapan skenario new normal oleh pemerintah dan penerapannya oleh korporasi sebagai fase baru pada pandemi covid-19 ini membawa optimisme bagi sektor bisnis, termasuk industri aviasi, untuk menyesuaikan diri dengan perilaku konsumen yang baru dan mulai bangkit perlahan," kata Andy.
Perseroan juga telah menyiapkan rebound strategy untuk mengantisipasi fase new normal ini dengan beberapa inisiatif yang melibatkan proses, sumber daya manusia, dan teknologi. Melalui upaya persiapan ini, Angkasa Pura I optimis dapat lebih siap memasuki masa new normal dan melakukan lompatan bisnis ketika pandemi ini berakhir nanti.
[Gambas:Video CNN]
(antara/bir)