Pefindo Beri Prospek Negatif untuk Angkasa Pura I

CNN Indonesia | Jumat, 22/05/2020 15:35 WIB
Calon penumpang menunggu jadwal keberangkatan pesawat di Terminal Keberangkatan Domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Rabu (18/3/2020). Angkasa Pura I menerapkan konsep 'social distancing' dengan menempelkan stiker panduan jarak untuk mengatur jarak antar orang di sejumlah area pelayanan publik bandara sebagai salah satu upaya untuk meminimalisir potensi penyebaran COVID-19 atau virus Corona. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/foc. Angkasa Pura I meraih peringkat idAAA (triple A) dari Pefindo. Namun, prospeknya negatif untuk periode 18 Mei-1 Agustus 2020. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I meraih peringkat idAAA (triple A) dari lembaga rating, Pefindo. Namun, prospek (outlook) diberikan negatif untuk kinerja keuangan operator bandara BUMN itu pada periode 18 Mei-1 Agustus 2020.

"2019 merupakan tahun yang cukup menantang dengan situasi industri yang cukup dinamis, sehingga hal tersebut berdampak pada tidak tercapainya target perusahaan pada 2019," kata Direktur Keuangan PT Angkasa Pura I (Persero) Andy S Bratamihardja dalam keterangan tertulis, seperti dilansir Antara, Jumat (22/5).

Ia mengatakan merebaknya pandemi covid-19 di Indonesia pada Maret 2020 turut berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hal ini yang membuat perubahan outlook perusahaan dari stabil menjadi negatif, walau masih berada pada peringkat tertinggi idAAA.


Pefindo juga menetapkan kembali peringkat idAAA terhadap Obligasi I Seri A, Seri B, Seri C tahun 2016 Angkasa Pura I senilai Rp2,5 triliun dan peringkat idAAA(syariah) terhadap Sukuk Ijarah I Angkasa Pura I Seri A, Seri B, Seri C Tahun 2016 senilai Rp500 miliar untuk periode yang sama dengan periode rating yang sama dengan periode rating secara korporasi, yaitu 18 Mei-1 Agustus 2020.

Peringkat tersebut diberikan berdasarkan data dan informasi Angkasa Pura I serta Laporan Keuangan Tidak Diaudit per 31 Maret 2020 dan Laporan Keuangan Audit per 31 Desember 2019, juga dalam rangka pemantauan khusus (special review) terkait perkembangan situasi terkini akibat dampak pandemi covid-19.

Seperti diketahui, idAAA merupakan peringkat tertinggi yang diberikan Pefindo. Peringkat ini menunjukkan kemampuan penerbit obligasi (obligor) yang superior dalam memenuhi komitmen jangka panjangnya.

Perubahan outlook dari stabil ke negatif disebabkan tidak tercapainya target trafik penumpang, pesawat, termasuk kargo pada 2019 yang berdampak pada tidak tercapainya target pendapatan pada 2019.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor eksternal, seperti kebijakan maskapai yang menaikkan harga tiket domestik dan mengurangi frekuensi penerbangan, kebijakan penghapusan allowance baggage, di beberapa maskapai, tertundanya rencana pengambilalihan empat bandara milik Kementerian Perhubungan dan pengoperasian tujuh ruas jalan tol Transjawa.

Pandemi covid-19 yang mengakibatkan penerapan kebijakan pembatasan sementara penerbangan domestik dan penutupan sementara penerbangan internasional melalui Permenhub Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 H, juga berdampak terhadap kinerja operasional di mana terjadi penurunan trafik penumpang dan pesawat yang cukup signifikan.

"Walaupun begitu, penyiapan skenario new normal oleh pemerintah dan penerapannya oleh korporasi sebagai fase baru pada pandemi covid-19 ini membawa optimisme bagi sektor bisnis, termasuk industri aviasi, untuk menyesuaikan diri dengan perilaku konsumen yang baru dan mulai bangkit perlahan," kata Andy.

Perseroan juga telah menyiapkan rebound strategy untuk mengantisipasi fase new normal ini dengan beberapa inisiatif yang melibatkan proses, sumber daya manusia, dan teknologi. Melalui upaya persiapan ini, Angkasa Pura I optimis dapat lebih siap memasuki masa new normal dan melakukan lompatan bisnis ketika pandemi ini berakhir nanti.

[Gambas:Video CNN]


(Antara/bir)