Akhmad menyebut sistem kerja penyaluran bantuan sosial (bansos) masih amburadul, berakibat penyaluran bantuan jadi lambat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akhmad ingin pemerintah memperbaiki pusat data penerima terlebih dahulu agar penyaluran BLT tak sekadar memberatkan APBN, tapi juga bermanfaat bagi masyarakat rentan.
Pun begitu, ia menyambut baik meningkatnya jumlah bansos tunai dari Rp1,8 juta menjadi Rp2,7 juta. Sebab kata dia, dampak pandemi covid-19 akan cukup panjang dan bantuan 3 bulan tak cukup menjadi bantalan pengganjal perut keluarga penerima.
Ia menilai total anggaran fantastis yang berasal dari anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tersebut tak diimbangi oleh pembaharuan data yang seharusnya dilakukan secara berkala.
"Saya melihat potensi kebocoran masih cukup besar karena memang basis datanya perlu diperbaiki, banyak kejadian yang salah sasaran," ujarnya pada Jumat (22/5).
Sebelumnya, Kasubdit Validasi dan Terminasi Kemensos Slamet Santoso mengakui data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) yang digunakan Kemensos sebagai acuan belum dimutakhirkan sejak 2017. Hal ini diperparah oleh pemerintah daerah yang belum melakukan pemugaran data di masing-masing wilayahnya.
Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperpanjang masa penyaluran BLT dari Dana Desa dari semulanya tiga bulan menjadi enam bulan. Dana BLT yang diterima pun naik dari Rp1,8 juta menjadi Rp2,7 juta per Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Keputusan ini diumumkan MenteriKeuanganSriMulyaniIndrawati sejak aturan diteken pada 19 Mei 2020, dan tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 50/PMK.07/2020 tentang Perubahan Kedua atas 205/PMK.07/2019 tentang Pengelolaan Dana Desa.
Astera menjelaskan penyaluran BLT dari Dana Desa terbagi atas dua tahap, di mana tahap pertama diberikan sebesar Rp600 ribu per penerima per bulan pada tiga bulan pertama. Kemudian, tahap kedua diberikan sebesar Rp300 ribu per bulan pada tiga bulan berikutnya.
[Gambas:Video CNN]
(wel/wis)