Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.774 per dolar AS atau menguat dari Rp14.785 per dolar AS pada Rabu (20/5). Sepanjang hari, kurs rupiah bergerak di rentang Rp14.730 hingga Rp14.775 per dolar AS.
Di kawasan Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS. Tercatat, won Korea Selatan menguat 0,78 persen, peso Filipina 0,52 persen, dolar Singapura 043 persen, lira Turki 0,42 persen, dan rupee India 0,38 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memperkirakan pelemahan rupiah terjadi karena pasar mengantisipasi potensi ketegangan baru Amerika Serikat (AS) dan China.
"Rupiah ditutup melemah hari ini padahal sentimen positif sedang membayangi pergerakan aset berisiko hingga sore ini. Mungkin karena pasar mengantisipasi potensi ketegangan baru AS dan China yang bisa memberikan dampak negatif ke perekonomian Indonesia," ujar Ariston kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/5).
Senada, Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah juga tak lepas dari hubungan AS-China yang kembali menegang usai merebaknya virus corona.
"Trump yang geram terus mengambil berbagai manuver, mulai dari rencana menerapkan tarif, menghapus China dari rantai pasok global, hingga mengancam putus hubungan dengan Negara Tirai Bambu," ujar Ibrahim.
Ibrahim memperkirakan pelemahan rupiah akan berlanjut pada pembukaan perdagangan esok hari. Namun, pada penutupan, rupiah berpotensi menguat terbatas di kisaran Rp14.710 hingga Rp14.785 per dolar AS.
[Gambas:Video CNN]
(sfr/agt)