Erick Thohir Ungkap Rahasia Krakatau Steel Bisa Cetak Untung

CNN Indonesia | Jumat, 29/05/2020 16:10 WIB
Logo PT Krakatau Steel (Persero), Jakarta, 24 Maret 2019. (CNN Indonesia/ Hesti Rika) Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan perbaikan kinerja Krakatau Steel tak lepas dari restrukturisasi dan efisiensi besar-besaran. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri BUMN Erick Thohir menyebut kondisi keuangan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) sudah membaik dan mulai menghasilkan profit setelah melakukan restrukturisasi utang hingga Rp30 triliun.

Menurut Erick, kesuksesan perusahaan dalam mencetak untung tak lepas dari efisiensi besar-besaran yang terus diarahkan Kementerian BUMN. Tak hanya dari sisi keuangan tetapi juga struktur perusahaan.

"Makanya kemarin kami minta restrukturisasi besar besaran atas kinerja BUMN, tidak hanya cashflow (arus kas) tapi juga efisiensi dan konsolidasi harus terjadi," ucapnya saat mengikuti diskusi online, Jumat (29/5).


Ia mencontohkan, restrukturisasi juga dilakukan oleh PT Perkebunan Nusantara di mana Kementerian BUMN melakukan perampingan jumlah direksi di bawah group PTPN III.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengoptimalisasi proses transformasi di perusahaan-perusahaan pelat merah dan penguatan peran BUMN dalam menopang pembangunan.

"Seperti di PTPN bagaimana kami melakukan efisiensi besar-besaran," imbuhnya.

Ia melanjutkan, kinerja Krakatau Steel harus terus dijaga agar ke depan dapat terus mencetak laba dan bisa berkontribusi lebih bagi pembangunan.

"KRAS yang hasil restrukturisasi sudah mulai profitable, ini yang harus betul-betul kami jaga," terang Erick.

Sebagai informasi, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menyatakan berhasil meraih laba bersih sebesar US$74,1 juta atau setara Rp1,08 triliun pada kuartal I 2020.

Torehan laba tersebut merupakan capaian yang cukup memuaskan setelah mengalami kerugian dalam 8 tahun terakhir.

Dirut Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan torehan laba tersebut terjadi karena penurunan beban pokok pendapatan sebesar 39,8 persen dan biaya administrasi dan umum sebesar 41,5 persen.

Perseroan, kata Silmy, telah melakukan perbaikan bisnis sejak 2019 dan hasilnya mulai terlihat di kuartal I 2020.

[Gambas:Video CNN]

Beberapa upaya yang telah dilakukan perseroan untuk memperbaiki kinerja antara lain melalui program restrukturisasi dan transformasi.

"Salah satu hasil positif yang dicapai perseroan adalah penurunan biaya operasi induk turun 31 persen menjadi US$46,8 juta dibandingkan periode yang sama di tahun 2019", ujarnya dalam pernyataan yang dikutip Jumat (29/5) ini.



(hrf/sfr)