Khudori
Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), anggota Pokja Dewan Ketahanan Pangan (2010-sekarang), dan peminat masalah sosial-ekonomi pertanian dan globalisasi. Telah menghasilkan lebih 1000 artikel/paper, menulis 6 buku, dan mengeditori 12 buku. Salah satu bukunya berjudul ”Ironi Negeri Beras” (Yogyakarta: Insist Press, 2008).

KOLOM

Akankah Krisis Beras Terjadi?

Khudori, CNN Indonesia | Selasa, 02/06/2020 11:53 WIB
Buruh membongkar beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur (8/11).( CNN Indonesia/ Hesti Rika) Ilustrasi beras. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdebatan ihwal krisis beras pada tahun 2020 sempat ramai. Di satu pihak, ada keyakinan kuat krisis tidak akan terjadi. Alasannya, sampai saat ini proses produksi belum terganggu. Masih belum ada laporan gagal panen padi akibat bencana atau hama penyakit. Meskipun ada pandemi Covid-19, proses produksi di lahan masih berjalan baik. Karena itu, kelompok ini memandang tidak pada tempatnya risau akan krisis beras. Bagi mereka ini, gembar-gembor krisis beras hanya untuk menakut-nakuti dan menebar cemas.

Di pihak lain, ada yang meyakini krisis beras bakal terjadi tahun ini. Bukan hari-hari ini, tapi saat paceklik (diperkirakan Oktober 2020-Februari 2021) dan tatkala pandemi Covid-19 tidak jelas kapan akan usai.

Tujuan kelompok ini bukan untuk menebar cemas atau menakut-nakuti, tetapi hendak memberikan peringatan agar pihak terkait jauh-jauh hari mempersiapkan diri dengan perisai. Harapannya, kalaupun krisis beras meletup, daya ledaknya tak terlalu berat.

Kelompok kedua ini menyodorkan sejumlah indikasi. Pertama, produksi padi tahun ini diproyeksikan kembali menurun seperti tahun lalu. Produksi padi periode Januari-Juni 2020 diperkirakan hanya 16,8 juta ton setara beras (BPS, April 2020), jauh lebih rendah dari periode yang sama tahun 2019 (18,61 juta ton) dan 2018 (20,17 juta ton).


Penurunan dua tahun berturut-turut ini tergolong cukup besar. Akibat penurunan ini, surplus produksi Januari-Juni 2020 diperkirakan hanya 1,8 juta ton beras, lebih rendah dari surplus produksi periode yang sama tahun 2019 (3,8 juta ton) dan 2018 (5,5 juta ton).

Kedua, musim panen raya tahun ini bergeser sebulan dari kondisi normal karena durasi kemarau lebih panjang. Kala situasi normal, panen raya berlangsung Februari-Mei. Tahun ini, panen raya berlangsung rentang Maret-Mei. Pergeseran musim ini berpotensi menurunkan luas tanam dan produksi musim tanam II atau musim gadu (Juni-September).

Apalagi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika juga memprediksi ada potensi musim kemarau lebih kering mulai Juni 2020 pada daerah sentra produksi pertanian, khususnya di sebagian Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Bali.

Karena itu, musim tanam gadu menjadi perjudian maha penting apakah krisis beras bakal terjadi atau tidak, dan termasuk seberapa dalam krisis. Selama ini, 60%-65% produksi beras dihasilkan pada musim panen raya, disusul produksi pada panen gadu 30%-35% dan sisanya pada saat paceklik.

Kalau penurunan produksi pada panen raya kali ini terjadi juga di musim gadu, jumlah dan persentase penurunan akan amat besar. Secara nasional, hal ini berpeluang mengguncang pasar beras. Ujung-ujungnya krisis beras potensial meledak.

Semua tahu beras adalah pangan pokok semua perut warga. Partisipasi konsumsi beras oleh warga merata di seantero negeri. Dalam struktur pengeluaran rumah tangga, beras mendominasi: rerata 24% dari total pengeluaran.

Ketika harga beras naik lantaran pasokan seret dan terjadi perebutan di pasar, panic buying bakal terjadi. Hanya warga berkantong tebal yang bisa memborong beras. Tak terbayang bagaimana kondisi sosial-politik apabila itu terjadi. Bukan mustahil situasi 1997-1998 terulang.

Penting diingat, tatkala hampir seluruh negara di dunia berjibaku melawan Covid-19, termasuk negara-negara produsen beras, pasokan beras dari pasar dunia sepertinya tidak bisa diandalkan. Dihadapkan pada ketidakpastian Covid-19, negara-negara produsen dan eksportir utama beras dunia lebih mementingkan kebutuhan dalam negeri. Vietnam misalnya, meskipun tercatat sukses memerangi corona, negara ini memutuskan menutup ekspor beras. Thailand pun baru membatasi ekspor beras.

Selama ini Vietnam bersama Thailand merupakan pemain utama ekspor beras dunia. Jika kebijakan Vietnam dan Thailand ini diikuti oleh negara-negara eksportir pangan lainnya, pasokan pangan lintas negara, juga ke pasar dunia, bakal turun. Ini bakal memukul negara importir pangan, yang kemudian bisa berujung pada krisis pangan. Tak terkecuali krisis beras.

Dari sisi produksi, pada Maret 2020 stok serealia (cereal) dunia meningkat 2,4 juta ton menjadi 866 juta ton. Ini membuat nisbah stock-to-use dalam posisi aman, yakni 30,9% (FAO, Maret 2020). Ada kenaikan stok dan produksi gandum dan beras.

Pasokan beras dunia boleh cukup. Masalahnya, aliran suplai beras yang berlebih itu bisa terganggu, baik karena alasan pembatasan ekspor maupun gangguan rantai pasok lantaran kebijakan karantina wilayah atau negara. Karena itu, berbeda dari krisis pangan 2007-2008 dan 2011 yang dipicu suplai pangan yang turun, krisis beras kali ini potensial berasal dari guncangan pasokan pada logistik pangan.

Ini menyangkut aktivitas yang rumit yang menghubungkan dari sisi produksi di lahan, proses logistik, pergudangan hingga jasa penjualan atau retail di tingkat hilir.

Pada akhirnya, implikasi serius corona tidak hanya mengancam produksi di hulu sebagai konsekuensi lanjutan kebijakan physical distancing atau karantina, tetapi juga mengganggu pengolahan pangan yang padat karya di tengah, dan juga telah memutus (membatasi) lalu-lintas perhubungan dan perdagangan antarbangsa di hilir.

Karena itu, dalam jangka pendek, diperlukan langkah-langkah cepat dan mudah dieksekusi. Pertama, harus dipastikan tidak ada gangguan proses panen. Kedua, harus dipastikan pula luas tanam dan produksi panen gadu (Juni-September) dan saat paceklik (Oktober 2020 - Februari 2021) bisa dijaga paling tidak sama tahun lalu. Tahun lalu, produksi saat panen gadu dan paceklik masing-masing mencapai 10,77 juta ton dan 6,64 juta ton beras.

Jika ini bisa dilakukan, guncangan produksi tak terlalu besar. Karena itu, akses petani terhadap input produksi (bibit, pupuk, air) harus dijamin. Rantai pasok mesti tak terganggu dan produksi petani terserap pasar agar kontinuitas produksi terjaga.

Terakhir, memastikan cadangan beras pemerintah (CBP) dalam jumlah memadai. Saat ini di gudang Bulog ada 1,42 juta ton beras, 1,36 juta ton adalah CBP yang didominasi beras sisa impor sebesar 0,74 juta ton, dan sisanya (0,56 juta ton) beras medium dari pengadaan domestik.

CBP harus bisa dipertahankan setidaknya 2-3 juta ton sampai akhir tahun. Jika produksi dalam negeri, termasuk pengadaan Bulog, tidak juga membaik, opsi impor harus dibuka. Ini harus diputuskan jauh-jauh hari. Stok ini akan menjadi instrumen tatkala terjadi kegagalan pasar, terutama saat harga melonjak tinggi.


[Gambas:Video CNN]

(vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS