Sebab, bank sentral nasional tetap menyesuaikan kemampuan pasar dalam menyerap penawaran surat utang dari pemerintah. Sebelumnya, BI menyatakan alokasi penyerapan surat utang pemerintah sekitar Rp150 triliun untuk below the line dan Rp299,3 triliun untuk above the line.
Alokasi tersebut dibuat berdasarkan asumsi kebutuhan pembiayaan APBN yang mencapai Rp1.439,8 triliun dengan defisit anggaran sekitar 5,07 persen. Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, alokasi yang disediakan bank sentral nasional kemungkinan masih sama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara rinci, BI membeli Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp4,65 triliun pada lelang yang diadakan 21-22 April 2020. Lalu, membeli Rp7,3 triliun pada lelang 5-8 Mei 2020 dan Rp1,17 triliun pada lelang 18 Mei 2020.
Kemudian, bank sentral membeli Surat Utang Negara (SUN) senilai Rp9,07 triliun pada lelang 28-29 April 2020. Selanjutnya, BI membeli SUN Rp1,77 triliun pada lelang 12 Mei 2020 dan Rp2,09 triliun pada minggu pertama Juni 2020.
[Gambas:Video CNN]
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan defisit APBN akan melebar dari 5,07 persen menjadi 6,34 persen pada tahun ini karena kebutuhan pembiayaan untuk penanganan dampak pandemi virus corona atau Covid-19 kembali meningkat. Semula, pembiayaan diperkirakan mencapai Rp852,9 triliun, namun kini meningkat jadi Rp1.039,2 triliun.
"Ini untuk menampung berbagai belanja pemulihan ekonomi dan penanganan Covid-19 termasuk untuk daerah dan sektoral," jelasnya. (uli/agt)